Aku berdiri di depan wajan yang berasap,menatap minyak yang meletup-letup.“Spesial,” kata lelaki berkaus kutang itu.Lalu …
Baca SelengkapnyaKategori: Tulisan Fiksi
Memotong Senja
Mas Daeng sayang, Kau tahu, Sayang? Orang-orang di luar sana seperti senja di televisi,datangnya cuma …
Baca SelengkapnyaLangit Mu
Mas Daeng sayang, lihatlah orang-orang di luar sana tengah sibuk menampung hujan, Mereka membawa seribu …
Baca SelengkapnyaSemesta
Mas Daeng sayang, Adik sudah menelepon operator semesta,meminta agar esok pagi datang lebih cepat. Sebab …
Baca SelengkapnyaTelaga Sunyi
Aksara, aku pernah keras kepala menetapdi bawah atap yang bocor oleh rintik waktu.Kutampung hujan yang …
Baca SelengkapnyaJangan Pernah Terobsesi dengan Logika Lelaki
[1/7] Aku rasa aku harus menulis ini sekarang sebelum semuanya terlambat. Ini bukan cerita fiksi, …
Baca SelengkapnyaHujan yang Percuma
Kota ini tidak pernah berhenti berisik. Klakson kendaraan bersahut-sahutan, saling buru, seolah-olah jalan raya adalah …
Baca SelengkapnyaMas Daeng Safar
Di antara denting sendok dan piring yang berkilau, di bawah lampu gantung yang berusaha keras …
Baca SelengkapnyaPeta yang Ditulis di Atas Kertas Basah
Di dalam dada, ada sebuah jam pasir yang retak, namun pasirnya tidak jatuh ke bawah, …
Baca SelengkapnyaSajak Tengah Jalan
Begini kita membangun rumah;tanpa pondasi,tanpa atap yang meneduh. Tak ada pintu yang diketuk di awal …
Baca Selengkapnya