Di kejauhan, kerbau-kerbau itu bergerak lambat, seperti arwah purba yang terjebak dalam tubuh yang berat. Mereka mengunyah rumput dengan ketenangan yang menghina kegelisahan manusia.
“Dulu, aku adalah bagian dari mereka,” suaramu memecah kesunyian, mengalir pelan seperti kabut yang merayap di lembah terlarang.
Kamu bercerita tentang masa kecilmu, tentang seekor kerbau yang bukan sekadar hewan, melainkan sahabat rahasia tempatmu menitipkan mimpi-mimpi kecil. Namun dunia dewasa adalah dunia yang kejam dan penuh kalkulasi angka. Ayahmu menjualnya, dan dalam narasimu, aku bisa merasakan bagaimana truk itu menjauh, membawa pergi sebagian dari jiwamu, menyisakan kekosongan yang hanya bisa kau tambal dengan selembar poster anak kecil yang menunggangi punggung kerbau di dinding kamarmu.
Aku terdiam, membiarkan gema ceritamu mengendap di dasar kabin yang dingin. Ada jeda panjang di mana luka lama itu seolah menguap, berubah dari kesedihan yang tajam menjadi kehangatan yang merambat pelan di antara jarak duduk kita. Perlahan, bayang-bayang truk yang membawa pergi masa kecilmu itu meluruh, digantikan oleh gravitasi yang tak terelakkan, menarik jiwaku untuk merapat pada duniamu yang sekarang.
Aku menatapmu lekat. Bagiku, setiap kata yang keluar dari bibirmu adalah sebuah pengembaraan. Aku tidak peduli pada kerbau itu, aku peduli pada luka yang kau rawat dengan begitu puitis di matamu. Bagiku, kau adalah sebuah negeri rahasia yang selalu ingin kujelajahi, meski aku tahu aku mungkin akan tersesat di dalamnya.
Mobil ini semakin dingin, dan entah sejak kapan, cahaya di luar sana tak lagi penting. Padang rumput itu, orang-orang yang berpiknik itu, bahkan kerbau-kerbau yang merumput itu, perlahan memudar menjadi latar belakang yang kabur, seperti lukisan yang belum selesai. Yang tersisa hanya kita.
Udara yang keluar dari napas kita bertemu, menciptakan kabut tipis di antara wajah kita. Tak ada lagi kalimat yang sanggup menampung apa yang kita rasakan. Kata-kata sudah habis, mereka telah terbang menjadi burung-burung yang hilang di cakrawala.
Kini, hanya ada keheningan yang bernapas. Hidung kita bersentuhan, sebuah titik temu antara dua kutub yang merindu, dan saat aku jatuh ke dalam pelukanmu, aku merasa seolah seluruh dunia sedang berhenti berputar. Pelukan itu adalah sebuah bahasa rahasia, sebuah janji yang tak terucap, yang berbisik di antara detak jantung: bahwa selama ada aku, kau tak akan pernah lagi kehilangan apa pun sendirian.
Di padang rumput itu, kerbau-kerbau masih merumput. Namun di sini, di dalam kotak besi yang dingin ini, kita telah menciptakan sebuah negeri sendiri, negeri tanpa suara, di mana cinta adalah satu-satunya hukum yang berlaku.