Bagi seorang pemula seperti saya, menekan tombol publish atau post itu rasanya mendebarkan. Mirip seperti momen menunggu pengumuman ujian.
Gara-gara menulis, saya mendadak jadi orang yang super peka. Setiap kali jemari ini selesai menari di atas keyboard, muncul suara bisikan di kepala: “Kalimat ini menyinggung perasaan orang tidak, ya? Jangan-jangan, maksud hati ingin mengeluarkan ‘isi kepala’ secara estetik, tapi jatuhnya malah bikin pembaca sakit hati dan langsung memblokir akun saya?”
Maklum, namanya juga penulis kemarin sore. Alhasil, aktivitas setelah menulis bukan langsung pamer di media sosial, melainkan ritual bertapa. Saya harus membaca ulang draf tulisan berkali-kali. Diedit lagi, dipotong lagi, lalu merenung lagi di pojok ruangan. Semua itu dilakukan demi satu misi suci: memastikan tulisan saya lebih humanis dan layak konsumsi publik.
Proses bolak-balik membaca dan merenung ini memang melelahkan, tapi di sinilah indahnya. Menulis ternyata bukan cuma soal merangkai kata agar terlihat keren. Lebih dari itu, menulis adalah latihan empati, belajar menyelami perasaan orang lain sebelum mereka membaca karya kita.
Jadi, kalau tulisan Anda belum juga tayang karena masih sibuk bolak-balik diedit, tenang saja. Anda tidak sedang buang-buang waktu. Anda justru sedang meracik tulisan dengan hati.
Yuk, nulis yuk.