Sepasang Bajingan, Seonggok Guling, dan Cinta yang Minta Mati

Malam bajingan.

Aku tahu aku bodoh. Jari-jariku sampai memutih karena meremas guling ini terlalu erat, seolah-olah kain usang ini punya dada yang bisa membalas dekapanku. Guling ini dingin. Bau apek. Sama sekali tidak ada bau parfum maskulin yang selalu kuhafal di luar kepala itu. Tapi persetan, di kamar sepi ini, aku butuh hantu untuk diajak berbaring. Aku butuh sesuatu agar tidak gila sendirian di atas kasur.

Di sana, di rumah itu, lampunya pasti masih menyala. Mungkin dia sedang tertawa. Atau mungkin sedang berbagi kehangatan dengan istrinya di bawah selimut tebal. Memikirkan itu membuatku mual, tapi otakku yang sakit ini malah terus-terusan memutar visual itu seperti kaset rusak.

Lalu ponselku bergetar. Layarnya menyala, silau sekali sampai mataku perih.

“Aku rindu, Sayang. Tunggu aku.”

Sialan. Manis sekali sampai kepalaku pening. Detik itu juga, ego bodohku langsung merasa diselamatkan. Padahal aku tahu betul itu cuma remah-remah umpan. Biar aku diam. Biar aku tidak merengek dan mengacaukan hidupnya yang sempurna. Dia itu penakut. Laki-laki pengecut yang tidak akan pernah punya nyali untuk memilih. Dan sialnya, aku adalah orang tolol yang paling ikhlas menyerahkan diri untuk dikuliti berulang kali.

Aku bisa membayangkan bagaimana dia mengetik pesan itu. Pasti sambil lalu. Mungkin sambil buang air besar, atau sambil menunggu istrinya mengambilkan sup hangat di meja makan. Jarinya bergerak santai, sementara hidupku di sini seperti kiamat kecil. Layar ponsel itu perlahan mati. Gelap lagi.

Rasa muak itu tiba-tiba naik sampai ke tenggorokan. Bukan cuma muak padanya, tapi terutama pada diriku sendiri. Aku menjijikkan. Aku tidak ada harganya.

Kupeluk lagi guling itu, lebih mirip seperti mencekik.

“Bajingan. Kau memang sialan, dan aku lebih hina karena mau mati karena cintamu.”

Umpatan itu menguap begitu saja. Kamar tetap senyap, rasa muak perlahan turun dan mengendap jadi kantuk. Aku membalikkan badan, memunggungi ponsel, lalu menarik selimut. Besok hari Selasa, dan jam weker akan berbunyi tiga jam lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *