Sepotong Sore yang Mengusirmu Pulang

Jam dinding di kamar ini mati pas jam empat lewat lima belas, tepat saat seekor lalat hijau gemuk mendengung frustrasi terjebak di sela kaca jendela. Kubiarkan saja benda itu mati. Lagian buat apa dibetulkan? Waktu di luar sana bergerak begitu-gitu saja, membosankan, persis seperti barisan buruh pabrik semen yang pulang dengan debu mengeras di leher baju mereka.

Aku menyerbu balkon. Di seberang jalan, kedai kopi murahan mulai menyala dan orang-orang di sana sudah bersiap untuk mulai bersedih. Begitu langit barat menjingga, mereka serentak menengadah, memasang muka melankolis mirip aktor amatir yang menunggu aba-aba sutradara untuk menjual air mata. Mereka menukar sisa lelah jam kerja dengan bualan konyol tentang senja, tanpa tahu kalau keindahan di atas kepala mereka sebenarnya hanyalah bangkai hari yang bersiap ditelan malam.

“Hei! Pencuri jahanam!” teriakku.

Orang-orang di bawah mendongak sambil memegangi cangkir kopi, melihatku seolah aku ini orang gila yang nyasar di balkon. Aku tidak peduli. Senja yang mereka dewa-dewakan itu cuma bajingan yang menjarah cahaya mentari, matahari terik yang siang tadi membakar kulitku dan memaksa tulang tuaku tunduk. Kini, sore yang sok puitis itu dengan gampangnya pamer warna emas tiruan.

Kucengkeram pagar besi yang karatnya mengelupas di telapak tanganku yang basah. Melihat kerumunan itu, aku mendadak jengkel, mengingat kisah Sukab yang konon memotong senja dalam amplop untuk wanita bernama Mantini? Sukamti? Entahlah, aku tak peduli. Bodoh. Perempuan itu pasti langsung membuang potongan sore itu ke kolong ranjang begitu warnanya berubah abu-abu kusam mirip seragam pegawai negeri.

Tiba-tiba ingatan itu meleset, memunculkan wajah perempuan yang mengagumi kisah Sukab, yang pernah kudekap puluhan tahun lalu. Dia selalu datang ke kosku jam dua siang, saat matahari sedang gila-gilaan di atas ubun-ubun. Di atas kasur kapuk tipis, kami melebur bersama hawa gerah yang menyesakkan napas. Kami benci senja. Bagi kami, sore adalah alarm sialan yang memaksanya buru-buru merapikan kembali kancing baju, lalu berjalan pulang ke pelukan suaminya yang sah.

Sekarang, dia pasti sedang menggoreng tahu di bawah lampu dapurnya yang bersih di sudut kota lain. Dia pasti sudah lupa padaku dan siang yang membakar dulu. Sementara aku di sini menua dan keropos sendirian, dikhianati langit sore yang berulang kali mengusirnya pulang ke laki-laki lain.

Jingga meredup cepat. Dadaku sesak oleh rasa dongkol yang konyol. Mengapa matahari yang siangnya begitu perkasa harus selalu kalah oleh transisi sore yang sok cantik ini?

Kemarahan membuat jemariku bergetar. Aku harus menghentikan kepunahan ini, dengan cara apa pun. Aku menyambar toples selai kosong, membuka tutup sengnya yang peyang, lalu kembali menerjang balkon. Kuacungkan toples itu tinggi-tinggi, tanganku mengayun kalap menyendok sisa sore yang mulai gulita. Aku melompat-lompat di atas semen retak, memburu sisa jingga terakhir seolah dengan begitu aku bisa merebut kembali siang terik yang pernah menyimpan tubuh perempuan itu.

Di seberang jalan, seseorang tertawa keras, mengira aku orang tua stres yang sedang menari menghibur malam.

Saat toples telah penuh oleh sisa sore yang sepi, kututup sengnya rapat-rapat sampai jemariku linu. Kubawa masuk benda dingin itu, kuletakkan di atas bantal dekilku. Aku rebahkan kepala di sampingnya. Dalam kegelapan pekat kamar, aku memeluk toples itu erat-erat, merindukan terik siang yang sudah lama dirampas orang, dan membiarkan diriku tidur dalam kekalahan yang bajingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *