Tiga belas ribu seratus empat puluh sembilan,
aku melihat Kalender yang sama,
tanpa ada tanggal yang sengaja dihias hati.
Semua hari melintas begitu saja:
datang, berbunyi, lalu hilang.
Hingga pada suatu siang di tahun ketiga puluh enam,
Suaramu di Seberang sana tenang dan lembut,
membawa sekotak udara hangat;
“Ini bulan lahirmu, kau mau apa?”
Lidahku lancang;
“Kamu.”
Lalu.
Hening.
Matahari besok tetap terbit.
Dan aku semakin yakin;
tidak pernah ada yang spesial dari hari-hari itu,
atau mungkin, dari tubuh yang selalu menunggumu.
Sulaiman Sutarji
Selamat milad ya Nduk… bapak bangga punya murid sehebat dirimu. Dulu waktu SMP, bapak masih ingat kamu sering minjem sepeda jengki yang bapak pakai ngajar di Handil.
Yaa Allah, waktu kok ya cepat berlalu ya Nduk. Semoga berkah usianya, berkah rezekinya, samawa dunia akhirat.
Bapak tunggu bubur abangnya ya Nduk.
diyah kuning
Masyallah, Bapak masih ingat saya,
dan masih lucu, Bapak dulu ngajar naik motor, Pak… hehehehe….
jadi kangen zaman SMP dulu, saat diajarin cara nulis puisi sama Bapak…
Aamiin, Bapak…
Terima kasih doanya, sehat juga untuk Bapak dan Ibu di rumah…