Di Bawah Langit Senja yang Sepotong

Aku merindukanmu.

Sederhana, tapi betah sekali ia tinggal di kepalaku.

Aku merindukan kalimat-kalimatmu yang selalu tahu cara menjinakan isi kepalaku. Aku rindu caramu melucu, lelucon-lelucon yang sebetulnya biasa saja tapi selalu berhasil mencuri tawa saat aku sedang lelah-lahnya.

Isi pikiranmu itu luas. Bersamamu, aku merasa bisa membicarakan apa saja, berselancar ke mana saja, menembus batas pantai yang tak pernah kupikirkan sebelumnya.

Aku rindu melihat jari-jarimu yang indah, dan aku rindu bagaimana bibirmu yang hangat itu menyentuhku.

Tapi sore itu, kau memberiku pelajaran lain. Kau mengajariku dengan tenang bahwa tidak semua rindu harus dituntaskan dengan sebuah pertemuan. Kadang-kadang, rindu memang hanya diciptakan untuk dipandangi dari jauh.

Bersamamu, aku akhirnya sadar bahwa cinta kita bukan baris-baris rencana yang tertulis rapi di atas kertas. Ia punya jalannya sendiri, yang seringkali tidak kita pahami.

Sekarang aku mengerti. Melepaskanmu adalah hal yang paling manusiawi yang bisa kulakukan saat ini. Walau sebenarnya, keputusan itu juga yang selalu membuat air mataku jatuh. Lucu rasanya, melihat bagaimana pertahananku bisa runtuh begitu saja hanya karena menatap sebaris catatan kecil yang kau tinggalkan di buku itu. Buku yang kau titipkan padaku sore itu, tepat saat matahari perlahan turun dan kita tahu kita tak lagi bisa bersama.

Paling tidak untuk sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *