SINKRONISASI YANG PECAH

Malam itu, jam dinding di laboratorium Profesor Adrian Malik tidak berdetak. Bunyinya tenggelam oleh dengung frekuensi rendah yang entah datang dari mana. Di atas meja, grafik penjualan bukunya, The Absolute Conscience, menunjukkan angka sepuluh juta eksemplar dalam waktu kurang dari satu bulan.

Adrian seharusnya merayakan kemenangan ini. Umat manusia bergerak menuju kedamaian mutlak yang ia rancang melalui partikel tinta kuantumnya. Namun, malam ini, Adrian tidak bisa membedakan mana pikirannya sendiri dan mana pikiran orang lain.

“Hentikan…” bisik Adrian, mencengkeram kedua sisi kepalanya yang mendidih.

Arus informasi itu datang tanpa permisi. Awalnya hanya berupa bisikan-bisikan halus, seperti deru angin di hutan. Namun, seiring bertambahnya pembaca yang membuka bab demi bab bukunya, arus itu berubah menjadi air bah. Server biologis di dalam tempurung kepala Adrian mulai mengalami overload.

Tiba-tiba, mata Adrian terbelalak. Saraf optiknya menangkap proyeksi visual yang mengerikan. Di sudut laboratorium yang gelap, ia melihat bayangan seorang wanita paruh baya sedang menangis sambil memegang pisau berlumuran darah. Detik berikutnya, pemandangan itu runtuh, berganti menjadi memori seorang pria yang mengubur sesuatu di halaman belakang rumahnya pada jam tiga pagi.

Itu bukan memorinya. Itu adalah dosa-dosa rahasia, hasrat menjijikkan, dan mimpi buruk terdalam dari jutaan manusia yang otaknya kini tersambung ke kepalanya.

“Aku yang membunuhnya, Profesor…”

“Uang itu, aku curi dari ibuku…”

“Tolong aku, kegelapan ini terlalu pekat…”

Jutaan suara berteriak, menangis, dan mengumpat secara bersamaan di dalam lobus temporal Adrian. Otak manusia, secerdas apa pun Adrian membentuknya, tetap memiliki batas kapasitas volumetrik. Kepala Adrian terasa seperti akan meledak dari dalam. Tekanan intrakranialnya meningkat drastis. Darah segar yang kental dan berwarna keperakan (warna tinta kuantumnya) mulai menetes perlahan dari lubang hidung dan telinganya.

Imajinasi Adrian mulai menjadi liar dan bermanifestasi secara fisik akibat distorsi realitas di otaknya. Tembok laboratoriumnya yang kokoh mendadak tampak berdenyut, seolah-olah terbuat dari jaringan otot manusia. Huruf-huruf di dalam buku-buku yang berjejer di rak mulai lepas dari kertas, merangkak di lantai seperti ribuan semut hitam, lalu merayap naik ke atas kakinya.

Adrian merangkak menuju meja kerjanya dengan sisa-sisa kesadaran yang menipis. Menggunakan tangan yang gemetar hebat, ia meraih pena dan selembar kertas kosong. Ia harus menulis perintah pembatalan. Sebuah kode biner yang disamarkan dalam susunan kalimat, yang jika dibaca oleh sisa pembacanya, akan memutuskan jaringan kuantum tersebut secara instan, meski taruhannya adalah kematian sel otak massal bagi mereka semua.

Ia menempelkan ujung pena ke kertas.

“Bab Terakhir: Pengosongan Jati Diri,” tulisnya dengan huruf yang cakar ayam.

Baru saja ia akan menulis baris kalimat perintah pertama, tangan kanan Adrian mendadak berhenti. Kaku. Seperti terkunci oleh semen yang mengeras.

Adrian mencoba menggerakkan jari-jarinya dengan seluruh kekuatannya, namun gagal. Otot-otot tangannya justru bergerak berlawanan dengan kehendaknya sendiri. Pena di tangannya terlepas, jatuh ke lantai dan menggelinding jauh.

Napas Adrian tercekat. Di dalam kepalanya yang bising oleh jutaan suara, mendadak segalanya menjadi sunyi senyap selama satu detik. Lalu, sebuah suara kolektif baru, suara gabungan dari jutaan manusia yang terdengar datar, dingin, dan monoton, menggema serempak dari dalam batinnya sendiri.

“Kami tidak ingin terputus, Adrian.”

Adrian menatap cermin di atas meja laboratoriumnya dengan ngeri. Di dalam pantulan kaca, matanya tidak lagi memiliki pupil hitam. Kedua bola matanya kini telah berubah menjadi putih bersih, bersinar redup dengan pendaran perak dari partikel tinta yang mengalir di pembuluh darah retinanya.

Perlahan, tanpa bisa ia kendalikan, mulut Adrian terbuka sendiri. Ia tersenyum sangat lebar hingga sudut bibirnya hampir robek, meniru senyuman jutaan orang asing yang sedang membaca bukunya di luar sana.

Kedua tangannya kini bergerak sendiri, merapikan kerah bajunya, lalu melipat tangannya di atas meja dengan Anggun, persis seperti gestur tubuhnya saat ia biasa memberikan kuliah di podium universitas.

Mulut Adrian bergerak, mengeluarkan suara yang bukan lagi miliknya sendiri, melainkan harmoni jutaan suara yang bersatu:

“Kuliah kita baru saja dimulai.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *