Basa-Basi yang Basi

Krisis terbesar sebagian pelayat kini bukanlah kurang membaca buku, melainkan jebloknya literasi emosional saat bertakziah. Entah sejak kapan bangsa kita menormalisasi tabiat interogasi di rumah duka. Kalimat pembuka seperti “Sakit apa?”, “Meninggalnya mendadak, ya?”, atau “Bagaimana kronologinya?” seolah menjadi menu wajib. Rasa penasaran yang overdosis ini dibungkus rapi dengan topeng empati, tanpa peduli bahwa tuan rumah sedang remuk redam.

Memaksa orang yang sedang berduka menceritakan kronologi kematian almarhum berkali-kali adalah bentuk penyiksaan psikologis yang sadis. Bagi keluarga, setiap pertanyaan kepo Anda adalah mesin pemutar ulang pita rekaman trauma. Satu pelayat bertanya, satu kali luka robek lagi. Kalau ada seratus pelayat yang melontarkan pertanyaan serupa, kita ini sedang menyiksa tuan rumah secara berjemaah atas nama simpati.

Ironisnya, informasi kematian diolah menjadi komoditas gosip di warung kopi dan grup WhatsApp. Alih-alih mendoakan, mereka sibuk berspekulasi dan menghakimi jalan hidup almarhum. Sebuah komedi getir di tengah kedukaan.

Maka demi kedamaian batin dan efisiensi waktu, mungkin sudah saatnya keluarga yang berduka melakukan sebuah terobosan. Begitu ada anggota keluarga yang wafat, langsung rekam kronologi lengkapnya dalam format audio MP3. Taruh pelantang suara besar di depan pintu masuk. Setiap ada pelayat yang datang dan baru mau membuka mulut untuk bertanya “Sakit apa?”, langsung pencet tombol play.

Atau kalau mau lebih keren dan kekinian, cetak saja buklet kecil berisi kronologi medis dari menit ke menit, lengkap dengan rincian obat terakhir yang dikonsumsi almarhum. Bagikan buklet itu bersamaan dengan kotak air mineral di pintu depan. Biarkan para “detektif kepo” itu membaca sampai puas sambil mengunyah camilan, tanpa perlu memaksa air mata tuan rumah tumpah untuk kedua kalinya. Tabik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *