Pasar Malam di Kepala Kita

Di jidatku tidak ada papan pengumuman.
Tidak ada tulisan: “Cinta Disewakan, Buka 24 Jam.”
Kau keliru jika mengira dadaku adalah toko kelontong,
yang pintunya bisa kau tendang saat kau butuh tempat berteduh dari hujan.

Kau datang dengan mantel beludru yang kau sebut kesetiaan,
membawa sekantung koin palsu bersuara gemerincing.
Lalu kau transaksi hatiku dengan harga murah.
Kau sewa sudut tersepi di tubuhku untuk membuang sampah rindumu.

Lalu waktu berputar secepat komidi putar yang rusak.
Ketika cuaca terang dan kau menemukan taman bermain yang baru,
matamu berubah menjadi sepasang pisau silet.
Kau menatapku seolah aku adalah gundukan tanah,
atau bangkai payung yang patah di sudut terminal.
Aku menjadi asing, seasing orang mati di koran pagi.

Kau melenggang pergi tanpa beban,
meninggalkan bau busuk dari transaksi yang kau batalkan sepihak.
Ah, bajingan.
Kau pikir hidup ini adalah sirkus,
dan aku adalah badut yang wajib tersenyum saat kau ludahi?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *