Kabut tipis masih menggantung di atas pucuk-pucuk daun padi yang mulai merunduk. Butiran embun berkilau laksana manik-manik kaca saat disergap sinar matahari pagi yang masih malu-malu. Angin sawah berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan kesegaran air parit yang mengalir bening membelah pematang. Di sinilah, di jalur tanah liat yang masih lembap ini, langkah kakiku beriringan dengan langkahnya.
Dia berjalan santai dengan sandal jepitnya yang sudah tipis. Lelaki itu, dengan sepasang mata yang selalu tampak menerawang jauh, kembali membuka mulutnya. Pikiran-pikirannya selalu saja melompat melampaui batas waras orang-orang di kampung kami.
“Kamu tahu,” katanya sambil menunjuk seekor capung jarum yang hinggap di ujung daun ilalang, “aku selalu berpikir capung-capung itu adalah utusan dari peradaban lain. Mereka mengawasi kita, mencatat berapa kali kita tersenyum dalam sehari, lalu melaporkannya ke langit.”
Aku hanya tersenyum kecil, membiarkan angin pagi memainkan ujung jilbabku. Pikirannya terlalu absurd. Terlalu luas. Namun, entah mengapa, segala keanehan yang keluar dari bibirnya selalu terasa menyenangkan untuk didengar, seperti nyanyian burung banyor yang bersahut-sahutan di pohon randu seberang jalan.
Langkah kami terhenti tepat di bawah pohon talas besar yang tumbuh di tepian parit. Dia berbalik, menatapku lurus-lurus dengan binar mata yang jenaka namun sarat akan rasa ingin tahu.
“Kenapa kamu mau berkenalan dan menetap denganku? Orang aneh yang menganggap batu kali punya jiwa dan angin punya bahasa sendiri?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menatap hamparan hijau di depan kami, lalu beralih pada wajahnya yang terpapar kehangatan fajar.
“Lebih tepatnya, aku terjebak,” jawabku tenang.
Dia menaikkan sebelah alisnya, bingung.
“Terjebak?”
“Ya,” ujarku lagi, kali ini dengan segaris senyum yang tak mampu kusembunyikan.
“Aku terjebak dalam keabsurdanmu yang indah.”
Dia tertegun sejenak. Matanya yang biasa menerawang jauh kini mengunci tatapanku, melembut seiring dengan kehangatan matahari yang mulai meninggi. Perlahan, dia mengikis jarak di antara kami. Tangannya yang hangat bergerak pelan, menyusup di antara jemariku hingga jari kami bertautan erat, seolah menyatukan dua dunia yang berbeda.
Sebelum aku sempat berkata apa-apa lagi, dia menundukkan kepala. Sentuhannya begitu lembut dan beralas ketulusan yang dalam saat kecupannya mendarat di dahiku, mesra. Ada rasa hangat yang menjalar, meruntuhkan sisa-sisa dinginnya embun pagi di tubuhku.
Angin sawah kembali berembus, menggoyang daun-daun padi dan melarutkan tawa kami yang kemudian pecah secara bersamaan, menyatu dengan alam pagi yang damai.
Di atas pematang ini, keabsurdannya tidak lagi terasa aneh, melainkan menjelma menjadi satu-satunya kebenaran yang ingin kudengar selamanya.