[1/18] Tanganku gemeteran parah. Aku ngetik ini pakai satu tangan di dalam pipa pembuangan limbah yang sempit dan bau anyir. Setengah badanku kerendam cairan lendir dingin yang lengket. Kalau twit ini tiba-tiba berhenti, tolong cari tahu siapa aku sebenarnya.
[2/18] Jujur, aku sendiri sudah gak tahu lagi aku ini apa. Jam 02.14 dini hari tadi, aku kebangun karena ada rasa sakit yang luar biasa di leher belakangku. Rasanya kayak ada sesuatu yang hidup, yang lagi menggeliat dan mencakar dari dalam daging pangkal tengkorakku.
[3/18] Karena gak kuat, aku lari ke kamar mandi. Pas aku raba leher belakang lewat cermin, kulitku bengkak hitam keunguan, dan ada siluet kotak keras yang gerak-gerak di bawah kulit. Karena panik, aku ambil silet jenggot. Aku nekat nyilet kulit leherku sendiri tanpa bius.
[4/18] Darah hitam kental langsung ngocor ke wastafel. Aku masukin jariku ke dalam robekan daging itu, nyari benda keras tadi. Pas aku tarik paksa… KRETEK! Suara urat sarafku putus terdengar jelas banget di dalam kepala.
[5/18] Aku berhasil ngeluarin chip logam kecil yang masih berdenyut, punya kaki-kaki mikro mirip kaki kelabang yang berlumuran darahku. Detik itu juga, ada suara lengkingan BZZZZZZT frekuensi tinggi yang bikin kupingku pendarahan. Terus, hening. Benar-benar hening yang mati.
[6/18] Baru di situ aku sadar… selama ini ada suara dengungan konstan di kepalaku yang ngatur kapan aku harus kedip, kapan aku harus napas, dan apa yang harus aku pikirin. Sekarang suara itu mati. Otakku mendadak kosong, dan dingin.
[7/18] Tapi yang bikin merinding, rasa sakit itu digantikan sama insting hewan yang liar. Aku keluar kamar karena denger suara seretan kaki. Di koridor bunker tempat tinggal kita, ratusan tetanggaku (orang-orang yang tiap hari aku sapa) lagi jalan beriringan.
[8/18] Tapi mereka gak jalan normal. Leher mereka semua miring patah ke kanan, mata mereka melotot putih tanpa pupil, dan mulut mereka mangap lebar mengeluarkan air liur. Mereka semua jalan kayak boneka tali yang rusak, bergerak ritmis menuju lift barang raksasa di ujung lorong.
[9/18] Aku terpaksa ikut berbaris, niru gerakan kaku mereka supaya gak ketahuan. Lift itu turun ke kedalaman yang gak masuk akal. Pas pintunya kebuka… bau busuk daging mati campur zat kimia langsung bikin aku mau muntah. Tempat itu adalah ruangan bawah tanah raksasa tanpa ujung.
[10/18] Di sana ada ribuan tabung kaca setinggi raksasa yang isinya cairan nanah kuning kehijauan. Aku beraniin diri untuk ngeliat ke dalam salah satu tabung yang lampunya agak terang. Jantungku rasanya mau copot. Di dalam tabung itu ada tubuh manusia yang kulitnya melepuh.

[11/18] Manusia tanpa rambut, dan matanya dijahit. Wajahnya… itu wajahku. Persis. Pas aku nengok ke tabung-tabung sebelahnya… semuanya mukaku. Ribuan mukaku dengan berbagai kondisi cacat. Ada yang tangannya buntung, ada yang kepalanya dibelah dan dipasang kabel.
[12/18] Kita yang hidup di atas tanah selama ini… apa? Apakah aku bukan manusia? Apakah kita cuma kloningan gagal, kelinci percobaan yang sengaja dilepas di “kota simulasi” atas tanah buat ngetes batas ketahanan tubuh terhadap virus dan radiasi.
[13/18] Tiba-tiba, lampu berubah jadi merah darah. Suara komputer menggema dari bisikan ribuan orang: “Kloning Nomor 249 menolak perintah. Kesadaran mandiri terdeteksi. Segera panen organ tubuhnya.” Detik itu juga, ratusan tetanggaku serentak muter kepalanya 180 derajat ke belakang.
[14/18] Mereka langsung ngeliat tajam ke arahku. Mulut mereka ngeluarin suara teriakan melengking yang sama persis kayak suara triakanku kalau lagi ketakutan. Aku balik badan dan lari kesetanan. Aku melompat ke dalam saluran pembuangan limbah ini sebelum mereka nyakar mukaku.
[15/18] Sekarang, aku bisa denger suara kuku-kuku tajam mereka lagi ngegaruk dinding besi pipa ini. Mereka lagi merangkak ke arahku dalam kegelapan. Jumlahnya ratusan, dan mereka semua punya muka yang sama kayak aku. Tapi yang paling bikin aku mau gila bukan suara seretan itu.

[16/18] Di dalam kegelapan pipa ini, leher belakangku mendadak kerasa gatal luar biasa. Pas aku raba… lubang bekas siletannya udah ketutup rapi. Dan di dalam dagingnya, aku bisa ngerasain ada puluhan kaki kelabang mikro baru yang lagi tumbuh cepat, mulai mencengkeram sarafku lagi.
[17/18] Dengungannya… dengungannya mulai kedengaran lagi di kepalaku. Pelan tapi makin keras. Suara itu ngebisikin satu kalimat berulang-ulang di otakku: “Pulang… serahkan tubuhmu… serahkan tubuhmu…” Jari-jariku udah mulai kaku susah digerakin. Ini twit terakhirku.
[18/18] Tolong, kalau kalian bangun tidur besok dan ngerasa ada benjolan kecil yang gatal di leher belakang kalian… JANGAN PERNAH DISENTUH. BIARKAN MEREKA MENGENDALIKANMU. Karena kalau kamu tahu jawabannya… kamu gak akan pernah bisa tidur lagi.