Lebaran Setiap Pekan

Kau adalah lelaki yang selalu tahu ke mana harus melangkah.
Kemeja Birumu yang selalu rapi, hidupmu yang penuh dengan rencana.
Sementara, orang-orang di luar sana sibuk pamer dunia,
yang sebenarnya melelahkan untuk dikejar.

Aku sering tidak paham dengan caramu menyayangi aku,
caramu diam-diam menyiapkan segalanya tanpa bicara.
Seringkali aku salah sangka, lalu kita bertengkar untuk hal sepele.
Tapi, selalu berakhir dengan saling memaafkan.
“Kita ini aneh,” katamu sambil tertawa,
“seperti merayakan Lebaran setiap pekan.”

Kelakar jenakamu itu selalu berhasil meredakan gemuruh,
membawaku kembali pada ketenanganmu yang kokoh.
Maka di sela-sela telepon kerjamu yang tidak pernah berhenti,
aku memberanikan diri mengetuk ruang sibukmu.
Menjelma anak kecil penakut yang melempar tanya bodoh:
kamu masih sayang, kan? kamu tidak bosan, kan?

Kau sempat kesal karena merasa tidak dipercaya,
menghela napas di depan tumpukan urusan yang menyita waktu.
Tapi amarahmu tak pernah bertahan lama; kau cepat paham,
bahwa di balik keraguanku, aku hanya sedang mencari pegangan.

Biarlah orang lain sibuk dengan urusan mereka yang megah.
Di sudut kamar ini, dengan segala salah paham kecil kita,
kita hanya dua manusia biasa yang selalu punya cara untuk pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *