Teach You a Lesson

Di liburan semester kali ini, saya memutuskan untuk maraton drakor terbaru berjudul Teach You a Lesson. Sebagai tontonan, serial ini sebenarnya paket lengkap: ceritanya seru, akting pemainnya jempolan, dan potret sengkarut dunia pendidikan yang ditampilkan terasa sangat nyata, tak ketinggalan para oppa dan ahjusinya lumayan bikin mata bersinar terang, upsss.

Sambil mengunyah keripik, saya membatin: ternyata urusan mendidik anak itu memang punya tantangan yang kurang lebih sama di mana-mana. Mau di Korea atau di Indonesia, dinamika hubungan antara guru dan orang tua selalu punya cerita unik yang bikin gemes sendiri. Begitu masuk episode 5, keseruan menonton itu mendadak buyar. Keripik di mulut rasanya hambar, hidung berkedut, mata berkaca-kaca, serta dada saya rasanya tiba-tiba nyesss gitu.

Di episode tersebut, ada satu adegan seorang wali murid berargumen dengan guru muda, lalu kalimat maut itu keluar: dia meragukan kemampuan si guru mendidik anak hanya karena si guru belum menikah dan belum punya anak.

Seketika itu juga, ingatan saya terlempar ke beberapa tahun lalu. Kalimat persis sama pernah mendarat langsung di hadapan saya ketika baru mulai mengajar di sebuah sekolah swasta.

Mungkin bagi sebagian orang, ucapan itu terdengar seperti kekhawatiran orang tua pada umumnya. Tapi bagi saya, yang saat itu sedang diam-diam berjuang demi garis dua, kalimat itu rasanya ngilu sekali. Ada rasa sedih yang sulit diceritakan; setiap hari mengajar dan merawat anak orang lain di sekolah, sementara di rumah sendiri, saya masih menanti keajaiban yang belum kunjung datang. Mendengar keraguan seperti itu rasanya sungguh menyayat hati.

Ada hal yang sering kali luput dari pandangan kita. Menjadi guru bukanlah profesi yang modalnya cuma nekat masuk kelas. Kami belajar bertahun-tahun di bangku kuliah, membaca teori perkembangan, dan menyelami psikologi anak agar tahu cara menghadapi berbagai karakter di sekolah. Mengajar itu ada landasan ilmunya, bukan sekadar urusan sudah punya anak atau belum.

Kalau dipikir secara logis dan sederhana, apakah seorang ustaz harus meninggal dulu baru boleh menceramahi kita tentang indahnya akhirat? Atau, apakah seorang dokter harus menjadi perokok berat dan merasakan sakitnya dulu baru nasihatnya tentang bahaya rokok dianggap valid? Tentu tidak, kan? Sama halnya dengan guru. Pemahaman tentang mendidik anak adalah sebuah keilmuan yang dipelajari secara profesional.

Orang tua memang memiliki ikatan batin yang kuat dengan anaknya di rumah, tetapi guru memiliki bekal keilmuan untuk membimbing mereka di sekolah. Keduanya harusnya bisa berjalan beriringan, saling mengisi, bukan malah saling menghakimi.

Untungnya, waktu kejadian itu menimpa saya dulu, saya masih bisa menarik napas dalam-dalam (Hussshaaaa). Padahal sebagai guru yang terhitung masih muda, ada letupan emosi yang rasanya ingin meledak begitu saja. Bersyukur sekali waktu itu mulut mungil ini masih bisa dijaga dengan baik, dan ego darah muda itu bisa diredam demi rasa hormat pada profesi ini.

Mendidik itu urusan kompetensi ilmu dan ketulusan hati. Ruang kelas akan selalu menjadi tempat yang hangat bagi siapa saja yang mau berbagi kebaikan. Tak peduli apakah di rumah Anda berstatus jomblo telanjur mapan, baru menikah, atau sudah punya anak selusin.

Makanya, yuk bisa yuk… stop menilai hebat atau tidaknya seorang guru mengajar cuma dari banyaknya anggota di Kartu Keluarganya. Terima kasih ya sudah saling mengerti, gamsahamnida! 🫶

Saranghae Ahjusi 🙂 Lah…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *