Jangan Lupa Oleh-Oleh

Pernahkah Anda merasa cemas, bukan karena takut ketinggalan pesawat, melainkan karena membayangkan daftar titipan yang panjangnya mirip struk belanjaan bulanan?

Beberapa waktu lalu, saya harus pergi ke luar kota untuk sebuah urusan. Mayoritas teman dan kerabat tentu dengan tulus mengirimkan doa kelancaran perjalanan. Namun, di antara pesan-pesan baik itu, selalu saja ada oknum yang menyelipkan kalimat sakti yang sudah dihafal luar kepala: “Wah, asyik ya! Jangan lupa oleh-olehnya, Mbak!”

Saya cuma bisa tersenyum sambil gigit tangan suami. Sejak kapan ya, agenda bepergian seseorang (entah itu liburan yang menguras tabungan, dinas yang bikin encok, atau ibadah yang sakral) berubah menjadi sebuah kewajiban moral untuk menanggung kesenangan orang lain?

Heran saya. Tradisi menyusahkan ini kok dipelihara dengan begitu subur. Padahal, urusan berbagi itu kan soal kelapangan hati dan dompet. Kalau ada waktu senggang dan dana lebih, tanpa diminta pun tangan ini pasti ringan untuk berbagi kebahagiaan. Masalahnya, budaya kita ini hobinya menodong duluan sebelum orangnya berangkat.

Iya kalau yang ditodong itu tipe orang yang cuek dan berani bilang “ndak ada bujet” seperti saya. Lah, bagaimana nasibnya orang-orang yang tipikal pekewuh alias tidak enakan? Mereka ini yang kasihan. Akhirnya terpaksa memangkas uang saku yang pas-pasan, lalu waktu istirahat yang mepet dihabiskan untuk keluyuran di pasar grosir demi menuruti gengsi. Ini kan namanya pemalakan massal berkedok silaturahmi.

Ayo, sudah saatnya kita pensiun dari mentalitas “pengemis terselubung” ini. Dalam pandangan agama, hobi meminta-minta tanpa adanya kebutuhan yang darurat itu bukan perkara sepele. Rasulullah SAW pernah memberikan sindiran yang sangat menohok dalam hadis riwayat Imam Muslim:

“Barangsiapa meminta-minta kepada orang lain untuk memperbanyak hartanya, maka seolah-olah ia memakan bara api.” (HR. Muslim no. 1041)

Bahkan, memaksa orang lain memenuhi keinginan kita juga bertolak belakang dengan prinsip kemanusiaan. Allah Swt. sudah menegaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 286 bahwa Dia tidak pernah membebani hamba-Nya di luar batas kemampuan. Kalau Tuhan saja begitu pengertian, kok kita sebagai sesama manusia tega melempar beban titipan tanpa rasa bersalah?

Sebenarnya, esensi dari sebuah perjalanan itu kan oleh-olehnya berupa cerita, pengalaman, atau minimal doa keselamatan. Jadi, bagi Anda yang punya hobi menodong buah tangan, mulailah belajar mempraktikkan gaya hidup gemi, nastiti, ngati-ati, alias mencukupkan diri dengan apa yang ada di dompet sendiri tanpa perlu merepotkan isi dompet orang lain.

Lagipula, melihat kerabat pulang dengan selamat, membawa raga yang utuh tanpa kurang suatu apa pun, itu sudah menjadi sebuah berkah luar biasa. Ndak usah ditambah beban harus menenteng kardus bakpia atau tumpukan kaus oblong. Sungguh, menyambut kepulangan seseorang dengan senyuman tulus itu jauh lebih mulia daripada menyambutnya dengan tatapan lapar penuh selidik ke arah barang bawaan. Tabik!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *