Sebuah Catatan untuk Admin WhatsApp yang Gemas dengan Kata “Insya Allah”

Suatu sore (eaa kaya cerpen aja), grup WhatsApp komunitas tenis saya mendadak ramai. Agendanya apalagi kalau bukan berburu slot untuk main bareng (mabar) di akhir pekan. Karena kuota lapangan terbatas, admin grup langsung gerak cepat mendata peserta.

Sebagai anggota yang candu mengayun raket, saya pun langsung menyambar pesan tersebut. “Insya Allah, saya ikut,” ketik saya di kolom komentar.

Bukannya nama saya langsung dicatat, si admin malah membalas dengan rentetan pertanyaan yang bikin gemas. “Mbak, yakin ikut kan? Soalnya ini mau langsung saya daftarkan dan bayar sewanya. Jangan sampai kosong slots-nya.”

Saya sampai geleng-geleng kepala di depan layar ponsel. Akhirnya saya balas lagi, “Lho, ini saya sudah bilang Insya Allah, lho!” Tapi si admin tetap saja tampak ragu.

Di sinilah letak tragedinya. Kalimat “Insya Allah” yang dalam syariat agama yang saya yakini berarti komitmen tinggi (99 persen saya pasti datang dan hanya menyisakan 1 persen untuk takdir Tuhan) kini nasibnya bergeser drastis. Di mata publik, khususnya di lingkaran pertemanan saya, kalimat suci ini telanjur mengalami degradasi makna. Ia sering kali dianggap sebagai kode halus untuk bilang: “Saya malas datang, tapi sungkan menolak.”

Akibatnya? Orang-orang yang benar-benar berniat hadir seperti saya justru terkena getahnya. Kita dicurigai, diinterogasi, seolah-olah sedang menyiapkan alasan untuk mangkir di hari H. Padahal, kalau memang mendadak ada ban bocor atau urusan darurat, di situlah fungsi 1 persen ketetapan Allah itu bekerja. Bukan karena sejak awal sengaja ingin ingkar janji.

Ayo, mari kita stop normalisasi salah kaprah ini. Jangan biasakan berlindung di balik kalimat mulia hanya untuk menyembunyikan ketidakpastian, atau parahnya, ketidakjujuran kita.

Jika jadwal Anda memang padat merayap atau Anda mager untuk bergerak ke Balikpapan (eh), mbok ya jujur saja sejak awal. Pakai istilah yang lebih aman dan logis. Katakan, “Maaf, agenda saya hari itu masih tentative,” atau sekalian berterus terang, “Sepertinya aku ragu bisa ikut mabar kali ini.”

Itu jauh lebih kesatria dan terhormat daripada mengumbar kata “Insya Allah” tapi di dalam hati sudah pasang niat untuk absen.

Secara pribadi, saya memang tidak setuju apabila ada orang yang mengumbar kata “Insya Allah” hanya demi terlihat sopan atau religius di grup WhatsApp. Ya mungkin karena saya ini orangnya neriman ing pandum. Kalau memang sibuk dan ndak bisa datang mabar, ya saya katakan jujur apa adanya. Ndak mau neko-neko pakai tameng kata suci.

Lagipula, mabar bagi sebagian kaum jomblo atau ibu-ibu pejuang LDR adalah penyelamat hidup dari kebosanan yang membunuh secara perlahan (eaaa, lagi-lagi kaya cerpen aja), walau saya ini semangatnya membara tapi fisiknya sudah jompo, yeah, sing model nafasnya senin-kamis di lapangan gitu lah, saya tetap terbuka untuk segala panggilan bertenis. Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *