Menyalin Mahakarya
"Hei kamu, iya kamu..."Suara itu hanya bergema di dalam kepalaku, tertahan di ujung lidah setiap kali sosoknya melintas di koridor perpustakaan yang sepi. Lelaki itu tidak berjalan; ia seolah meluncur,…[...]
Read More
"Hei kamu, iya kamu..."Suara itu hanya bergema di dalam kepalaku, tertahan di ujung lidah setiap kali sosoknya melintas di koridor perpustakaan yang sepi. Lelaki itu tidak berjalan; ia seolah meluncur,…[...]
Read More
Di hadapan selembar kertas yang masih putih bersih ini, kuletakkan penaku dengan tangan yang gemetar. Malam telah sepuh, angin gunung berembus dingin menembus kisi-kisi jendela, namun panas di dalam dadaku…[...]
Read More
Gerimis baru saja membasuh aspal Jalan Jaksa. Aku menyulut kretek ketiga. Di depanku, secangkir kopi hitam yang dingin dikerubuti dua ekor semut mati. Aku menatap jalanan. Memantulkan lampu neon hotel…[...]
Read More
Sabtu pagi kami jarang dibuka dengan obrolan santai di teras atau sesapan kopi hangat yang tenang. Alih-alih aroma arabika, bau menyengat lem kuning dari luar pintu selalu lebih dulu menyergap…[...]
Read More
Senja itu, seperti biasa, tidak pernah meminta maaf karena telah menenggelamkan matahari. Ia hanya berlalu, meninggalkan warna merah yang perlahan membusuk menjadi malam. Di sudut beranda yang bising oleh suara…[...]
Read More
Malam ini, sandiwara itu akhirnya runtuh juga. Ternyata, berpura-pura tidak terjadi apa-apa adalah cara paling sialan untuk menyiksa diri sendiri. Sudah lewat lima puluh sembilan jam tiga puluh menit sejak…[...]
Read More
Kau adalah lelaki yang selalu tahu ke mana harus melangkah.Kemeja Birumu yang selalu rapi, hidupmu yang penuh dengan rencana.Sementara, orang-orang di luar sana sibuk pamer dunia,yang sebenarnya melelahkan untuk dikejar.…[...]
Read More
Bolehkah sore ini aku sedikit sombong kepada semesta?Akan kupamerkan pada langit, angin, dan riuh dunia,bahwa di balik megahnya ciptaan yang mereka punya,aku memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: cintamu. Iya,…[...]
Read More