Pelanggan

Sebenarnya, klise sekali. Aku hanya sedang melihat-lihat galeri lama, lalu ada fotomu menjemput wanita itu. Seseorang yang waktu itu kau perkenalkan dengan begitu fasih sebagai rekan kerja, kerabat lama, atau apalah namanya, jenis hubungan profesional yang entah kenapa harus melibatkan tanganmu yang bersandar santai di belakang pundaknya. Kau bahkan rela memangkukan tas hitamnya, menjaga barang itu seolah itu hal paling berharga di dunia.

Di situ, segalanya mendadak jadi terang benderang.

Aku tidak menangis, aku hanya tersenyum kecil karena akhirnya paham. Kau tidak jahat, kau hanya terlalu berbakat. Kau punya keahlian bawaan untuk membuat siapa saja merasa menjadi pusat semesta. Dan aku? Aku hanya salah satu orang bodoh yang antre di sana, merasa dipilih, merasa paling berbeda.

Sekarang aku tahu, itu bukan cinta. Jangankan cinta, sepotong ketulusan pun mungkin tidak ada harganya di kepalamu. Kau hanya seorang pedagang yang sangat ramah. Kau merawatku dengan kehangatan yang pas, memastikan layananmu memuaskan, semata-mata agar pelanggannya yang satu ini tidak pindah ke toko lain.

Sederhana sekali, kan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *