Bayangkan Anda memesan paket, lalu saat kurir datang, Anda mendadak mencium kakinya sambil menangis histeris: “Mas, untung ada Mas. Kalau enggak ada Mas, saya bisa mati!”
Absurd banget, kan? Si kurir pasti langsung tancap gas, takut bakal dijadikan ketua sekte sesat.
Tapi anehnya, drama absurd ini sering kita pakai di kehidupan nyata. Berterima kasih kepada sesama manusia itu wajib. Yang agak kelewat batas adalah ketika kita mulai “menuhankan” mereka.
Anda pasti pernah( bahkan sering sih, saya yakin) mendengar orang yang lagi bucin parah berucap: “Kalau enggak ada kamu, aku enggak bisa hidup.”
Heiii, sebelum kenal dia, zombie kah Anda? Enggak, kan? Anda tetap bernapas dan hobi nyemil bakso.
Lebih ajaib lagi, ada tipe manusia yang hobi menepuk dada: “Ini semua berkat saya. Kalau saya enggak ada, kamu mah bukan apa-apa!”
Wedew. Sudah saktikah Anda? Mau coba-coba cosplay jadi Firaun jilid kedua?
Ingat, kita semua ini cuma perantara. Posisi kita sama persis dengan kurir paket tadi. Kebetulan saja Tuhan titip barangnya lewat kita. Kalau kita mogok, Tuhan tinggal tunjuk kurir lain. Bumi tidak akan berhenti berputar hanya karena kita mangkir kerja.
Jadi, stop merasa paling berjasa. Dunia sudah ribet begini, tidak usah tambah-tambah masalah dengan menjadi orang yang merasa paling “pemberi hidup”.
Bagi yang sedang kebucinan akut atau merasa berutang budi sampai ingin memberikan semesta kepadanya, please, yuk sadar yuk. Manusia itu tempatnya khilaf, jangan dijadikan pusat tata surya.
Lagipula, kalau dipikir-pikir lagi, belum tentu juga si Budi yang berutang, kan? (Tenang, jangan memaki, jokes garing ini sengaja saya selipkan, biar valid kalau esai ini ditulis asli oleh manusia imyut berdarah biru keunguan, bukan ketikan robot AI).
Pokoknya, intinya tu: hargai manusianya, sembah Penciptanya. Jangan dibalik!