Mas

Sore runtuh terlalu cepat di atas kepala kami. Langit Yogyakarta, atau kota mana saja yang sedang dikutuk rindu, pekat seketika, menyisakan sepicing warna saga yang megap-megap di ufuk barat. Lalu hujan tumpah begitu saja. Tanpa aba-aba, layaknya tangis yang pecah setelah seharian ditahan.

Melalui kaca kafe yang mengembun, hiruk-pikuk di luar sana melarut menjadi bayang-bayang samar. Orang-orang sibuk berlarian menghindari basah, sama sibuknya dengan mereka yang gemar menghitung selisih umur di antara aku dan lelaki di hadapanku ini. Sepuluh tahun, kata mereka, adalah jurang. Bagi dunia yang terbiasa mengukur segalanya dengan rumus dan tabel, kami adalah anomali. Tapi bagiku, lelaki ini adalah sebaris gending kuno yang tak akan luntur digerus zaman.

Aku menyesap cappuccinoku yang mulai mendingin, mencuri pandang dari balik bibir cangkir.

Di seberang meja, ia duduk mengalirkan ketenangan hangat, tatapan yang langsung terasa seperti rumah. Garis mukanya peta perjalanan panjang; guratan tipis di sudut mata menceritakan ratusan buku yang telah khatam dan jam terbang hidup yang tak bisa dibeli modal tampang belaka. Ia tidak perlu kemeja bermerek mentereng atau bicara bernada tinggi untuk menegaskan isi kepala. Cukup dengan caranya melipat lengan kemeja katun, ia sudah mampu menguasai ruangan.

Bagaimana mungkin aku bisa melangkah pergi dari lelaki yang seluruh hidupnya merangkulku seperti ini? tanyaku pada diri sendiri. Kemeja katunnya yang rapi tampak serasi dengan kulit lengannya yang bersih sewarna madu muda. Dari seberang meja sempit ini, keharumannya mengalir hangat seperti pelukan, wangi segar yang menenangkan. Aroma yang seketika membuat riuh di luar kafe tidak lagi penting. Manusiawi. Jauh lebih nyata ketimbang pemuda sebayaku.

“Adeeeek…”

Suara itu datang. Berat, rendah, meliuk indah seperti uap kopi yang mengambang bebas sebelum buyar digoda angin. Baritonnya menyusup, melunakkan gemuruh guntur yang barusan menghentak atap seng di luar.

“Iya, Mas?” sahutku. Singkat, namun dadaku mendadak sesak oleh debar kekanak-kanakan.

Ia menoleh, menatapku lurus dari seberang meja. “Kopinya sudah dingin. Mau Mas pesankan cokelat hangat saja? Udara di luar makin menggigit.”

Aku menggeleng pelan. Alih-alih menjawab tawaran cokelatnya, aku justru memajukan dagu, menatap kedua matanya yang teduh dengan tatapan merajuk yang sengaja dibuat-buat. Rasa ingin dimanja mendadak meluap begitu saja.

“Mas…” panggilku lagi, kali ini sengaja merendahkan nada suara, menuntut perhatian penuhnya.

Mendengar panggilanku yang kedua, tanpa senyum berlebihan, khas lelaki Jawa yang memegang krama dan tahu cara menjinakkan keras kepalaku, ia merunduk sedikit. Dengan suara baritonnya yang rendah dan melumat malam, ia menyahut, “Dalem, Sayang… Dalem, Diajeng…”

Panggilan itu meluncur, menyusup begitu halus. Lebih dari sekadar jawaban, kata itu adalah pelukan tak kasat mata, sebuah ruang teduh yang seketika membakar habis bisik-bisik miring orang luar menjadi abu. Bagaimana mungkin aku tidak luruh? Lelaki yang begitu dikagumi dunia ini rela merunduk, melipat seluruh kedewasaannya hanya untuk merayakan panggilanku.

Biarlah dunia sibuk mendikte standar cinta mereka sendiri. Sebab di meja ini, di bawah kepungan lampu kafe yang mulai temaram, aku tahu seluruh pertahananku sudah runtuh. Aku kalah, dan anehnya, aku bersedia tersesat selamanya di dalam labirin suaranya yang teduh.

***

Hujan akhirnya menyerah, meluruh menjadi kristal rintik yang menempel di kaca kafe. Kami beranjak, membawa sisa kehangatan yang tertinggal di dinding cangkir.

Di ambang pintu, kesigapannya bergerak tanpa suara, mendahuluiku satu ketukan langkah. Ia mendorong pintu kayu yang berat, menahannya dengan punggung tegap agar tubuhku bebas melenggang aman dari sergapan udara basah. Perlakuan kuno yang sederhana, namun entah mengapa selalu berhasil memicu ngilu manis di ceruk jantungku.

Udara dingin malam langsung menyergap kulit saat kami menembus gerimis menuju pelataran parkir. Di tepi jalan yang basah, ia bergerak cepat membukakan pintu mobil untukku. Tangannya yang lebar memayungi bagian atas bingkai pintu, menjagaku dengan takzim agar ujung jilbabku tak basah oleh kecipratan sisa air dari atap.

Aku menyusup masuk ke kabin mobil yang wangi aromaterapi cengkeh. Dari balik kaca yang mulai buram oleh napas, aku melihatnya berjalan memutari kemudi di bawah sisa rintik hujan. Tubuhnya tegap, langkahnya mantap tanpa keraguan.

Aku tahu, di luar sana, ada banyak perempuan yang matanya berbinar tiap kali ia naik ke podium seminar. Ada banyak kepala yang mengagumi isi otaknya yang laksana sumur tanpa dasar. Malam ini, keangkuhan wanitaku melonjak tinggi. Lelaki yang diperebutkan isi kepalanya oleh dunia itu, kini duduk di balik kemudi di sampingku, memindahkan persneling dengan kelembutan yang dewasa dan menenangkan.

“Terima kasih sudah mau sabar nunggu adik ya, Mas,” bisikku, lirih sekali, nyaris berupa desis yang tertahan di tenggorokan.

Ia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan tangan kirinya, mengusap puncak kepalaku sebentar dengan telapak tangan yang hangat, lalu kembali fokus menatap jalanan kota yang berkilau oleh sisa hujan.

Kami tidak memburu waktu. Di dalam kabin ini, jarum jam rasanya melambat, memberi kami ruang untuk merawat jarak usia ini menjadi sebaris doa yang panjang. Biarlah orang luar sibuk menggunjing. Sebab bersamanya, melangkah bukan lagi sekadar perkara jatuh cinta, melainkan sebuah perjalanan pulang yang direstui oleh ketenangan. Menunggu pun, kini menjelma ibadah yang indah, jika tujuannya adalah kamu.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *