Bajingan! Matahari di atas kantor kelurahan ini rasanya sengaja ditaruh pas satu jengkal di atas kepala, khusus untuk menyiksa orang-orang miskin seperti kami. Baju dasterku sudah basah kuyup di bagian ketiak dan punggung. Kalau ditengok dari belakang, polanya pasti mirip peta buta, peta kemiskinan yang baunya asam, saking lamanya mengantre.
Di depanku, Bu RT masih sibuk menyikut kiri-kanan, panik kalau-kalau jatah beras tiga kilonya digondol orang. Di belakangku, bau minyak telon bercampur keringat buntet dari bayi yang menangis rewel bikin kepala makin keliyengan. Aku cuma bisa meremas payung lipat murahanku ini kuat-kuat. Tolonglah, Gusti, jangan sampai aku pingsan sebelum nomor antreanku dipanggil. Perutku sudah bunyi dari tadi.
Lalu, bau apek menyengat mendadak menusuk hidungku.
Aku melirik lewat sudut mata. Seorang lelaki kurus menyempil tepat di belakangku. Entah aku tak mengenalnya. Wajahnya? Sialan, tipe wajah yang bikin kita otomatis memeluk tas selempang erat-erat karena takut kecopetan. Kaosnya bolong di ketiak, lebar sekali sampai bisa jadi ventilasi rumah tipe 36. Tapi yang bikin aneh, matanya itu lho. Bukannya senewen atau emosi karena antrean tidak jalan-jalan, dia malah senyum-senyum sendiri seperti habis menang lotre.
“Luar biasa ya, Mbak. Di bawah matahari yang bikin otak mendidih begini, kita sedang ditempa jadi manusia kertas. Mengantre begini seakan-akan cara negara menyaring siapa di antara kita yang paling tipis badannya, yang paling gampang dilipat-lipat dan diselipkan ke dalam laci arsip mereka.”
Aku mengerutkan kening. Kutolehkan kepalaku sedikit, menatap penampilannya dari atas sampai bawah. Manusia kertas kepalamu peyang! Ini orang sehat atau otaknya sudah agak geser karena dehidrasi sih? Panas-panas begini malah mendongeng. Ini antrean beras bansos yang molor tiga jam karena petugas di dalam kebanyakan nyebat, nyemil dan ngopi, bukan tempat audisi jadi kertas!
“Kertas apa, Mas? Ini antrean beras. Telat pula. Kalau badanku makin tipis, itu karena belum makan dari pagi, bukan karena mau diselipin di laci!” sahutku judes.
Aku sengaja memalingkan muka lagi ke depan. Berharap dia tahu diri, tersinggung, dan berhenti mengajakku bicara.
Tapi dasar muka tembok. Dia malah melempar senyum yang membuat matanya yang sipit itu hilang tenggelam di balik pipinya yang kempot.
“Justru itu poinnya, Mbak,” bisik Joni, kepalanya sedikit maju di samping bahuku. “Kelaparan kita hari ini adalah lembaran naskah yang belum selesai ditulis negara. Kita semua di sini sebenarnya sedang diuji, Mbak. Dijemur sampai garing, digeser maju-mundur seperti tumpukan dokumen rongsokan demi memperebutkan kupon kuning penyambung nyawa. Kita harus bertahan, hanya agar raga kertas kita ini tidak lekas hangus terbakar oleh harga BBM yang kian melambung tinggi mencekik leher.”
Raga kertas? Ya Tuhan, demi apa aku harus berdiri di depan penyair gagal di tengah hari bolong begini? Perut lagi keroncongan, kuping malah dijejali dongeng puitis. Aku mau tertawa, tapi kasihan melihat wajah kempotnya. Tapi sialnya, harus batin kecilku akui, bahasanya agak keren. Di saat orang-orang dari tadi mengumpat memakai seluruh isi kebun binatang, lelaki apek ini malah memaki nasib pakai diksi sastra.
“Mas ini… petugas dinas sosial yang sedang menyamar, ya?” bisikku sangsi.
Dia tertawa renyah, memperlihatkan deretan giginya yang agak kekuningan. “Bukan, Mbak. Saya cuma orang lapar yang kebetulan hobi mengagumi nasib.”
Aduh, mak. Sumpah, otaknya pasti konslet karena dehidrasi. Dari penampilannya, lelaki ini jelas tidak bakal lolos ujian matematika anak SD. Saldo ATM-nya pun mungkin sudah jamuran. Tapi sial, lidahnya manis betul. Selama dua jam kaki kami mati rasa di atas aspal yang mulai meleleh ini, dia tidak berhenti mengoceh. Anehnya, celotehannya bikin waktuku berjalan dengan cepat.
Tepat di depan kami, Bu RT mendadak mengomel keras, memaki-maki kebijakan pemerintah tentang tarif pajak dan potongan iuran baru yang makin mencekik leher rakyat kecil. Bukannya ikut mengumpat, si Joni ini malah menyandarkan bahunya ke tembok kelurahan sambil mendesah panjang.
“Negara kita ini romantis betul, Mbak,” bisik Joni, matanya menerawang menatap atap kelurahan yang berdebu. “Mereka rajin sekali mengetuk pintu rumah kita lewat surat tagihan, seolah-olah takut kita kesepian. Tapi begitu giliran rakyat yang kelaparan mengetuk pintu mereka, tanggapan mereka selalu sama: mohon tunggu, berkas Anda sedang diproses. Janji kesejahteraan itu persis seperti paket bansos, Mbak. Ditunggu dengan syahwat oleh jutaan orang, tapi saat turun selalu salah alamat dan dikorupsi dikit-dikit.”
Dia sengaja menjeda kalimatnya, lalu memiringkan kepala hingga tatapan matanya mengunci lurus ke mataku. Sepasang matanya yang sipit mendadak berkilat jenaka.
“Namun, menatap Mbak dari jarak sedekat ini, saya sadar ada satu anggaran di semesta ini yang mustahil bocor atau salah alamat adalah arah kiblat mata saya. Semua rindu saya langsung cair tanpa melewati birokrasi.”
Deg. Jantungku mendadak melompat. Kurang ajar, bualan politik macam apa itu tadi? Kenapa kata-kata se-absurd itu bisa bikin dadaku berdesir hebat? Sri, ingat umur! Ingat cicilan panci! Jangan mau ditipu modal kata-kata!
“Antrean seratus dua puluh sembilan! Mas, mana fotokopi KK sama KTP asli?!”
Bentakan melengking dari petugas kelurahan yang judes itu membuyarkan lamunan konyolku. Astaga, giliran Joni.
Aku melihat Joni mendadak panik. Dia merogoh kantong kanan, kosong. Kantong kiri, nihil. Lalu, PLAK! Dia menepuk jidatnya sendiri keras-keras sampai dahi dekilnya memerah. Semua orang di antrean menatapnya aneh.
“Waduh, Mbak,” katanya sambil cengengesan tanpa dosa ke arahku. “Sepertinya birokrasi rindu saya melesat terlalu cepat, sampai-sampai lupa menyertakan lampiran dokumen di dunia nyata. KK saya tertinggal di bawah bantal. Tadi malam sengaja saya jadikan alas mimpi, maksud hati supaya bisa makan enak di alam bawah sadar.”
Tuh, kan! Apa kubilang. Lelaki ini memang tidak punya otak sejenius itu. Petugas kelurahan di depan sudah mulai berkacak pinggang, siap-siap menyemprotnya dengan makian. Orang-orang di belakang sudah mulai kasak-kusuk menyuruh Joni keluar dari barisan.
Melihat wajah Joni yang mendadak kikuk, ada sesuatu yang mengusik hatiku. Kasihan. Orang aneh begini kalau tidak dibantu, bisa mati kelaparan di jalanan. Alih-alih jengkel karena waktu mengantreku terbuang, aku malah membuka dompet. Mengambil selembar uang sepuluh ribu satu-satunya yang tersisa di luar uang bansos.
Kuselipkan uang itu ke jemarinya yang kasar.
“Pakai ini saja dulu buat fotokopi di depan toko sana, Mas. Cepat. Biar birokrasi rindu atau apa pun itu namanya tidak berakhir jadi urusan perut yang gagal kenyang,” bisikku, berusaha menahan senyum yang rasanya mau tumpah.
Joni memandangi uang sepuluh ribu di tangannya seperti melihat mukjizat. Mata sipitnya melebar.
“Terima kasih, Mbak,” ucapnya khidmat, suaranya mendadak tulus tanpa bualan lagi. “Ini bukan sekadar utang, tapi saham pertama saya pada kebaikan hati Mbak yang luar biasa.”
Dia langsung melesat lari. Cara larinya canggung sekali, mirip bebek kesengat listrik, membuat debu-debu jalanan beterbangan di atas aspal. Aku memandangi punggungnya yang menjauh dengan gelengan kepala.
Lelaki sinting. Aku ke sini buat menyambung nyawa dengan beras gratisan, tapi isi kepalaku malah pulang membawa tumpukan kata-kata manis yang sialnya, tidak bisa ditanak jadi nasi.