Menyalin Mahakarya

“Hei kamu, iya kamu…”
Suara itu hanya bergema di dalam kepalaku, tertahan di ujung lidah setiap kali sosoknya melintas di koridor perpustakaan yang sepi. Lelaki itu tidak berjalan; ia seolah meluncur, membelah udara dengan ketenangan yang mengintimidasi.

Aku sering bertanya-tanya dalam diam, Tuhan menciptakanmu dari apa? Jika benar malaikat tercipta dari cahaya, aku yakin bahan utamamu bukan cahaya biasa yang membosankan. Kau pasti ditenun dari cahaya Aurora yang menari di langit kutub, dingin namun menyihir, hijau kebiruan yang membuat siapa pun kehilangan napas hanya dengan sekali pandang.

Atau, jangan-jangan kau adalah personifikasi iblis? Katanya, mereka tercipta dari api. Tapi bukan api merah yang membakar kayu kering. Jika kau adalah api, kau adalah api putih kebiruan, inti paling panas dari sebuah bintang. Panasmu tidak menghanguskan kulitku, tapi sanggup membuat jantungku meleleh setiap kali netra kita tak sengaja beradu.

Orang-orang bilang manusia diciptakan dari tanah. Tapi aku sulit memercayainya saat melihatmu. Tanah mana yang bisa membentuk garis rahang setegas itu? Tanah mana yang mampu berpendar sebegitu indah di bawah pendar lampu pualam? Bagiku, kau terlalu mustahil untuk sekadar berasal dari debu bumi.

“Permisi, kursi ini kosong?”

Suara berat itu memecah lamunanku. Ia berdiri tepat di depanku, memegang sebuah buku tua. Cahaya matahari sore masuk melalui jendela, membingkai wajahnya dengan pendar keemasan.

“Kosong,” jawabku lirih, sambil berusaha memungut kepingan jantungku yang mulai mencair.

Aku kembali menunduk, pura-pura sibuk dengan catatan kuliahku, padahal jemariku gemetar hebat. Dulu, aku pikir aku sudah khatam soal keindahan. Aku pernah berdiri terpaku di depan lukisan Renaissance di galeri tua, mengagumi pahatan marmer yang katanya adalah representasi sempurna manusia. Mataku pun tak asing dengan para ‘pujaan visual’, simetri wajah yang dipuja di sampul majalah atau layar perak. Namun, saat kau duduk hanya berjarak dua jengkal dariku, semua standar itu runtuh seketika. “Keindahan” yang pernah kutemui sebelumnya terasa hambar. Mereka hanyalah sketsa kasar, sementara kau adalah coretan terbaik yang diselesaikan Tuhan dengan senyuman. Jika mereka adalah bintang-bintang kecil yang berusaha menerangi malam, kau adalah seluruh galaksi yang meledak dalam sunyi.

Kehadiranmu di sini, menghirup udara yang sama denganku, terasa seperti keanehan semesta. Kau bukan sekadar indah; kau adalah gangguan bagi logikaku. Aku tidak sedang jatuh cinta, aku sedang terpesona hingga ke tahap yang mengerikan. Bagaimana bisa seluruh kemegahan jagat raya ini terbungkus dalam wujud manusia setenang ini? Dan bagaimana bisa jantung ini bertahan untuk tidak berhenti berdetak setiap kali kau bernapas?

Ah, kamu… kenapa harus seindah ini untuk ukuran seseorang yang nyata?


Tiba-tiba, ia meletakkan buku tuanya dengan pelan. Tanpa mengalihkan pandangan dari halaman yang baru saja ia baca, sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah senyum yang lebih mematikan dari sekadar pendar aurora.

“Sudah selesai menghitung partikel cahayaku?” tanyanya tenang, suaranya rendah namun telak menghantam kesadaranku.

Aku mematung. Jemariku yang gemetar mendadak kaku di atas catatan kuliah. Belum sempat aku menyusun pembelaan, ia menoleh, menatap tepat ke manik mataku dengan binar jenaka yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Atau kau masih bingung aku terbuat dari tanah surga atau debu bintang?” Ia terkekeh pelan, lalu menyodorkan sebuah buku kecil yang sedari tadi tergeletak di sampingnya.

“Lain kali, kalau mau menulis puisi tentang rahang seseorang, pastikan buku catatanmu tidak terbuka lebar saat kau melamun, ya.”

Aku melirik meja, dan seketika rasanya ingin hilang ditelan bumi. Di sampul buku catatan yang terbuka lebar itu, tertulis namaku dengan huruf kapital yang mencolok. Aku baru sadar, sejak tadi aku bukan sedang berpura-pura sibuk menulis materi kuliah, melainkan sedang memamerkan seluruh isi kepalaku yang lancang tepat di hadapannya.

“Aku duluan,” pamitnya sambil berdiri, meninggalkan aroma kayu cendana yang tertinggal di udara. “Sampai jumpa di ‘cakrawala’ berikutnya, Penulis.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *