Epistolar Wanita Tamak

Di hadapan selembar kertas yang masih putih bersih ini, kuletakkan penaku dengan tangan yang gemetar. Malam telah sepuh, angin gunung berembus dingin menembus kisi-kisi jendela, namun panas di dalam dadaku tiada kunjung padam. Air mata yang sejak tadi kutahan, kini tumpah jua, menitik satu-satu di atas kertas ini, melarutkan tinta bersama remuknya seluruh sukmaku.

Wahai lelaki yang namanya telah terpatri di tiang jantungku…

Andai engkau tahu, betapa hebatnya badai yang mengamuk di dalam dada perempuanmu ini. Orang-orang di luar sana senantiasa berseru tentang harga diri, mereka bermadah tentang marwah dan kemerdekaan jiwa. Namun demi Tuhan, di hadapan bayangmu, runtuhlah segala keangkuhan dunia itu. Aku tidak peduli lagi pada apa yang mereka sebut keluhuran budi, jika upahnya adalah hidup tanpa dirimu.

Aku mencintaimu, teramat sangat mencintaimu. Sedalam lautan yang tak terukur jalannya, seluas langit yang tak bertepi piasnya. Rasa ini telah menjelma menjadi udara yang kuhirup; jika engkau pergi berpaling, maka tersumbatlah jalan napas dalam duniaku. Mengapa takdir begitu kejam, memaksa kita tunduk pada keadaan? Mengapa aku harus selalu menjadi pihak yang mengalah, yang berjalan mundur sambil memandangi punggungmu dengan hati yang hancur berkeping-keping?

Dengarlah jerit jiwaku yang paling kelam ini: Aku ingin engkau mengusahakanku! Aku tidak meminta kemewahan duniawi, yang kuinginkan hanyalah keteguhan hatimu untuk membelah jarak, mengetuk pintu rumahku, dan berdiri dengan gagah di hadapan dunia demi membelaku. Aku ingin melihatmu berjuang hingga berdarah-darah untuk cinta kita, sebagaimana aku telah menyerahkan seluruh kehormatan dan sisa umurku ke dalam genggamanmu.

Biarlah dunia mengutukku, biarlah malaikat mencatatku sebagai perempuan yang paling tamak. Sungguh, aku ingin menjadi satu-satunya wanita yang memiliki dirimu sepenuhnya. Aku tidak sudi berbagi senyummu, aku tidak rela menyerahkan tatapan matamu yang teduh itu kepada perempuan lain, walau hanya seujung kuku. Aku ingin memilikimu utuh, lahir dan batin, dunia hingga akhirat. Biarlah aku menjadi egois untuk sekali ini saja dalam hidupku yang singkat. Aku tidak peduli apakah kegilaan asmara ini akan membakar diriku hingga menjadi abu, atau menyeret sukmaku ke dasar jurang kehancuran yang paling kelam. Asalkan di ujung kehancuran itu, jemariku masih bertaut dengan jemarimu.

Jika mencintaimu adalah sebuah dosa yang merusak kain kafan kehormatanku, maka biarlah aku tenggelam bersama dosa itu. Karena hidup dalam kemuliaan tanpa kehadiranmu, sesungguhnya adalah sebuah kematian yang paling sengsara bagiku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *