Laki-laki itu tidak memukulku. Dia cuma bicara. Tapi caranya bicara membuat kepalaku berisik dan dadaku sesak. Sore itu, tanpa satu pun memar di tubuh, kata-katanya sukses membuatku merasa tidak ada gunanya lagi hidup.
Bapak tidak bertanya siapa yang melakukannya. Dia cuma mendekat, lalu memegang keningku. Tangannya dingin. Sentuhan itu membuatku ingat kejadian dua puluh tahun lalu. Saat aku menangis di tanah karena mainan pasar malamku pecah. Bapak yang baru pulang kerja, dengan celana yang kotor oleh lumpur, langsung berlutut. Dia tiup debunya, lalu direkatkannya serpihan plastik itu pakai lem korea sampai jarinya sendiri ikut lengket.
“Wis, jangan nangis. Selama ada Bapak, apa yang rusak masih bisa kita benerin, Nduk,” katanya waktu itu.
Hari ini, yang rusak di depannya bukan lagi mainan plastik. Bapak cuma butuh sekali lihat untuk tahu anak perempuannya baru saja diinjak-injak orang. Tanpa sepatah kata pun, dia berdiri. Dia ambil jaket jip lamanya yang bau tembakau cengkih.
Bapak tidak pergi ke kantor polisi. Dia jalan kaki mendatangi kontrakan laki-laki itu. Tidak ada adu mulut. Begitu pintu dibuka, Bapak langsung menghantamkan jidatnya ke hidung bajingan itu.
Krak. Bunyi tulang patah itu pendek dan sangat jelas. Itu bukan pukulan orang tua yang sedang marah, melainkan hantaman dari seorang lelaki yang seluruh harga diri keluarganya baru saja diludahi. Detik itu juga, rasa sesak di dadaku hilang, digantikan oleh amarah Bapak. Bapak tidak memikirkan hari esok. Baginya, hari esok tidak ada gunanya jika hari ini mataku sudah kehilangan binarnya.
Tapi tubuh tua tidak bisa berbohong. Belum sempat laki-laki itu bangun memegangi hidungnya yang berdarah, Bapak justru tumbang duluan. Napasnya memburu. Wajahnya pucat. Jantungnya tidak kuat menahan emosi yang begitu hebat. Malam itu, duniaku berpindah ke selasar rumah sakit.
Seminggu di ICU, aku cuma mencium bau alkohol. Bapak terbaring di antara selang dan bunyi monitor medis. Sungguh aneh melihat lelaki yang biasanya berbau asap kretek tajam, kini harus bernapas lewat mesin. Dalam igauannya, Bapak memanggil namaku berkali-kali. Suaranya panik, seperti takut aku tenggelam. Di selasar itu aku sadar: kalau Bapak tidak ada, rumah kami cuma akan jadi bangunan kosong yang sepi.
Bapak akhirnya pulang, tapi dia tidak pernah sama lagi. Jalannya jadi lebih lambat dan langkahnya diseret. Berbulan-bulan setelah malam di rumah sakit itu, kami menghabiskan banyak sore hanya dengan duduk di teras rumah tanpa banyak bicara. Bapak sibuk melinting tembakaunya dengan tangan yang mulai gemetar, sementara aku sibuk menata kembali hatiku yang sempat runtuh. Kami tidak pernah membahas kejadian malam itu. Amarah sudah selesai, dan di teras yang sepi itu, Bapak sedang menemani kekalahanku pelan-pelan, sampai akhirnya aku berani membuka hati untuk laki-laki baru yang membawanya datang ke rumah kami.
Akhirnya, hari pernikahanku pun tiba. Bapak berdiri di ambang pintu dengan wajah yang masih pucat. Di sampingku, ada laki-laki lain yang kupilih dengan tangan gemetar.
Bapak tidak memberi pidato yang muluk-muluk. Dia cuma memegang tanganku. Merasakan gemetar yang sama seperti saat aku belajar berjalan memegangi telunjuknya dulu. Dia melepaskannya pelan-pelan. Sangat pelan. Seolah takut sayap burung yang baru selesai dia jahit ini patah lagi.
Bapak menatap laki-laki pilihanku. Dia tidak melihat pakaiannya, tapi langsung melihat matanya.
“Anakku ini badannya saja yang kelihatan utuh, Le. Di dalamnya, dia pernah pecah berantakan,” suara Bapak serak. “Aku butuh seumur hidup buat ngumpulin serpihannya pakai darah dan air mata. Kalau kamu sampai bikin dia retak lagi, kamu enggak hanya berurusan sama orang tua jompo ini. Kamu urusan langsung sama Gusti Allah yang nitip dia ke aku.”
Tepat sebelum tanganku berpindah, Bapak merogoh saku jaket lamanya. Dia menyerahkan sebuah benda kecil ke telapak tanganku. Serpihan plastik mainan dua puluh tahun lalu. Warnanya sudah pudar, tapi permukaannya licin karena terlalu sering diusap oleh doa-doanya yang diam.
Dia tidak bilang, “Hiduplah dengan bahagia.” Tatapannya sudah cukup mengatakan bahwa semua modal untuk bertahan hidup sudah dia simpan di dalam batinku lewat serpihan-serpihan kecil itu.
Bapak melepas genggamannya. Dingin kulitnya berpindah ke hangat tangan suamiku. Saat Bapak berbalik dan berjalan menuju sudut rumah yang sepi, aku tahu Bapak tidak pernah benar-benar pergi. Dia cuma berdiri sedikit lebih jauh, memastikan tidak akan ada lagi yang bisa membuat mataku menangis untuk kedua kalinya.