Gerimis baru saja membasuh aspal Jalan Jaksa. Aku menyulut kretek ketiga. Di depanku, secangkir kopi hitam yang dingin dikerubuti dua ekor semut mati. Aku menatap jalanan. Memantulkan lampu neon hotel melati di seberang jalan. Merah, murahan, dan berderik setiap kali dayanya sekarat.
“Jangan belagu, Sat. Badanmu itu harus hancur dulu sampai jadi tanah, baru kamu tahu caranya berdiri.”
Ucapan badut tua di sudut bar tadi sore mendadak terngiang. Aku mendengus. Persetan dengan petuah lama.
Orang-orang yang sok bijaksana itu, penceramah di layar kaca, dan para tetua di warung kopi selalu bicara seolah-olah penderitaan adalah ongkos parkir yang wajib dibayar setiap kali kamu menginjakkan kaki di dunia.
Katanya, orang harus berdarah dulu baru bisa jadi manusia. Persetan. Bagiku darah tetaplah darah. Amis. Merah. Mengotori kemeja. Tidak ada wahyu yang turun saat kamu sekarat di gang sempit setelah dikeroyok preman pasar. Yang ada cuma rasa perih dan tagihan rumah sakit yang mencekik.
Aku meraba kantong celana jins bututku. Kompas rusak ini pemberian Ayah. Jarumnya selalu menunjuk ke arah yang salah. Di buku-buku puisi, benda sialan begini biasanya dipakai untuk menggambarkan orang yang sedang mencari jati diri. Romantis. Cih tahi kucing.
Nyatanya, kalau kamu tersesat di Jakarta tanpa uang sepeser pun, tidak ada keajaiban yang menuntunmu pulang. Kamu cuma akan berakhir di kolong jembatan. Tidur berbantalkan semen, lalu diusir satpam atau digigit anjing kurap.
“Mau tambah kopi, Mas?” tanya pelayan warung sambil menyeka keringat dengan handuk loak di bahunya.
“Tidak. Saya mau pergi.”
Aku melempar selembar uang sepuluh ribuan yang lecek. Aku berdiri. Membetulkan jaket jins yang mulai koyak di bagian siku. Malam ini aku tidak punya tujuan. Kontrakan di pinggiran Jakarta sudah digembok pemiliknya karena menunggak tiga bulan.
Melarikan diri sejauh mungkin cuma buat merindukan tempat tidur? Sialan. Pemikiran yang tolol. Aku tidak perlu kabur ke mana-mana untuk merindukan kasur butut bau apek itu. Sekarang pun, saat berdiri di atas aspal basah ini, aku sudah merindukannya setengah mati.
Hidup tidak sejinak itu, Kawan. Hidup tidak berjalan seperti naskah sandiwara yang berakhir dengan pelukan hangat di ambang pintu.
Aku melangkah keluar dari tenda warung. Hujan mulai turun lagi. Kali ini lebih deras. Menghantam kepalaku. Dingin dan perih. Di depanku, Jakarta cuma hamparan gedung-gedung beton dan tiang jembatan yang bisu. Kota ini tidak peduli kamu hidup atau mampus malam ini. Tidak ada peta di tangan, tidak ada jaminan kamu bakal selamat sampai besok pagi, dan jelas tidak ada siapa-siapa yang menunggumu di ujung jalan.
Aku memasukkan kompas rusak itu kembali ke saku. Kakiku sengaja menginjak genangan air kotor di trotoar hingga celanaku basah kuyup. Persetan. Kalau kota ini memang mau membuatku hancur, silakan saja. Tapi aku tidak akan mati sambil mengemis belas kasihan.
Aku terus melangkah menembus hujan. Berangkat saja.Tersesatlah dengan gagah.