Sabtu pagi kami jarang dibuka dengan obrolan santai di teras atau sesapan kopi hangat yang tenang. Alih-alih aroma arabika, bau menyengat lem kuning dari luar pintu selalu lebih dulu menyergap ruang tengah.
Dari ambang pintu, aku memperhatikan Mas Udhin yang sibuk menekan-nekan moncong pantofel lamanya yang mangap. Di kantor, bapak-bapak berdasi akan merapikan jas mereka setiap kali berpapasan dengannya di koridor. Tapi di sini, di bawah teduh garasi, sang manajer divisi itu tak lebih dari seorang pria keras kepala yang sedang sibuk menyelamatkan alas kaki yang sudah ingin pensiun.
“Mas, belilah yang baru. Kamu itu bos, memalukan kalau bawahanmu lihat,” kataku, sengaja meletakkan cangkir kopinya agak keras ke atas meja teras.
Dia cuma menoleh, nyengir. “Alah, orang kantor kan lihat kerjaannya Mas, Dek, bukan lihat apa yang Mas pakai. Ini masih enak dipakai, kok. Cuma copot dikit, kulitnya masih aseli. Eman-eman.”
Selalu begitu. Untuk urusan badannya sendiri, dia punya kekerasan kepala yang bikin jengkel. Tapi giliran denganku, dia berubah total.
Selasa malam, dia pulang membawa kardus hitam dengan logo centang putih di atasnya, sepatu tenis dambaanku yang harganya setara beberapa kali lipat pantofel bututnya. Dia meletakkan kardus itu di meja makan, mencium keningku, lalu duduk dengan tenang sambil membuka kancing kemeja kerjanya.
“Kemarin Adek mau ini, kan? Mas belikan. Katanya yang merek centang ini empuk buat lari di lapangan,” ucapnya santai. Dia meraih cangkir, lalu menyeruput kopi hitam buatanku yang masih mengepul.
Aku menatap sepatu tenis baru di dalam kardus, lalu beralih memandangi Mas Udhin. Dia sudah melepas pantofel tua dan kaus kakinya, menyandarkan tubuhnya yang lelah ke sandaran kursi dengan raut wajah yang sangat tenang. Tidak ada ganjalan, tidak ada rasa terpaksa.
Aku cuma bisa diam, mendadak dadaku terasa penuh. Laki-laki yang punya kuasa untuk memborong isi toko olahraga ini, justru memilih pulang dengan sepatu tuahnya yang hampir jebol tanpa beban sedikit pun. Dia benar-benar tidak peduli pada penilaian orang luar tentang apa yang menempel di tubuhnya. Namun, dia selalu punya cara untuk mendahulukan kenyamananku di atas segalanya.
“Suka kan, Dek? Dipakai ya. Biar kaki atlet kebanggaan Mas ini nyaman pas main tenis.”
Lalu, kami tertawa bersama.
Malamnya, suasana rumah kembali sepi. Kardus hitam itu sengaja kuletakkan di lantai dekat pintu kamar, tepat berdampingan dengan pantofel usang Mas Udhin. Bau sisa karet terbakar dan sengatan lem kuningnya masih tercium samar di kegelapan koridor.
Aku masuk ke kamar, melihat Mas Udhin sudah tidur menyamping dengan napas yang teratur. Di bawah lampu tidur yang temaram, punggungnya kelihatan begitu lebar di bawah selimut, kokoh dan menenangkan.
Aku ikut merebahkan badan di sampingnya, menatap langit-langit kamar kami yang sunyi.
Aku tahu, besok-besok aku mungkin akan tetap gemas dan mengomel setiap kali melihatnya sibuk belepotan lem di hari Sabtu. Tapi di ranjang ini, dalam gelap yang pelan-pelan merayap, aku akhirnya paham. Mas Udhin tidak pernah butuh sepatu mahal untuk kelihatan terhormat di depan orang lain. Baginya, urusan harga diri sudah selesai. Dia hanya ingin memastikan bahwa, ketika aku berjalan ke luar rumah, kakiku selalu nyaman.
Aku bergeser mendekat, menyandarkan kepalaku ke punggungnya yang hangat, lalu memejamkan mata.