SENDIRIAN

Tiga belas sentimeter. Hanya setinggi itu tabung Bright Gas yang ada di dapurku terangkat dari lantai semen sebelum tangan ini gemetar, kehilangan daya, dan membiarkan besi jahanam itu menghantam jempol kaki.

Gubrak.

Sakitnya menjalar sampai ke ubun-ubun, tapi aku bahkan tidak sempat meringis. Aku melorot ke dinding dapur, melipat lutut, lalu menangis meraung-raung seperti orang gila. Lucu. Sangat bajingan. Aku tidak mati saat kamu mengemas baju dan melangkah keluar dari pintu depan rumah ini tiga bulan lalu. Aku tidak gila saat nomor ponselku diblokir oleh orang-orang yang biasanya menghabiskan malam minggu di mejaku. Tapi sore ini, di depan sebuah tabung gas pink dan satu galon kosong, pertahananku hancur total.

Aku menangis bukan karena berat besi itu. Aku menangis karena perutku lapar, tenggorokanku kering, dan tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang peduli apakah aku masih bernapas atau sudah membusuk.

Dunia ini penipu. Sungguh.

Dulu, sebelum ada kamu, sebelum ada rombongan teman-teman ngopi itu, aku sudah tahu rasanya sepi. Tapi dulu sepi itu sederhana, hanya ruangan yang kosong. Lalu mereka datang. Menawarkan tawa, menawarkan kepulan asap rokok, menawarkan janji setia kawan sampai mati di atas meja kedai kopi. Sialnya, aku percaya. Aku menelan bulat-bulat bising yang mereka bawa. Namun tiap kali jam dinding melompat ke angka dua belas malam, suara knalpot mereka menderu menjauh, dan pintu kamarku berdentum menutup, riuh itu menguap begitu saja. Tersisa aku. Sendirian lagi. Menatap langit-langit, menghitung detak jantung sendiri.

Lalu kamu datang memperparah segalanya.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu,” katamu sore itu di bawah pohon peneduh jalan. Kamu menggenggam tanganku begitu erat, seolah-olah duniamu akan runtuh kalau jemariku lepas. Kamu berjanji akan menjadi tameng, menjadi pelindung, menjadi tempat pulang.

Omong kosong. Manusia memang makhluk paling pintar mengumbar kalimat murah.

Ingat malam saat ban mobilku mendesis habis di pinggir jalan lingkar kota yang gelap? Gerimis turun, lampu jalan mati, dan dongkrak mobilku macet. Aku mengirimkan pesan kepadamu dengan tangan gemetar kelaparan. Mengharap ksatria penjemput yang sesumbar itu datang. Apa yang kudapatkan? Panggilan dialihkan. Dua jam aku bertarung dengan besi dongkrak, mengotori sweter putihku dengan oli dan lumpur, memutar kunci roda sendirian sampai telapak tanganku melepuh. Kamu di mana saat itu? Tidur? Atau sedang tertawa dengan kekasihmu yang lain? Urusanku dianggap sepele. Kamu hanya mau ada saat aku tertawa, bukan saat aku sedang memunguti serpihan harga diriku di aspal basah.

Selesai. Sore ini batas sabarku resmi habis. Aku tidak akan lagi menyusun serpihan ekspektasi yang ujung-ujungnya hanya menyayat telapak tanganku sendiri. Aku angkat tangan.

Sambil menghapus sisa air mata yang terasa asin di bibir, aku berdiri. Kudorong galon kosong itu hingga menggelinding ke sudut ruangan. Persetan dengan air minum. Persetan dengan makan malam.

Aku berjalan ke pintu depan. Memutar grendel kunci dua kali. Mengambil anak kuncinya, lalu melempar benda logam kecil itu lewat celah lubang angin di atas pintu. Biar jatuh ke semak-semak luar. Biar hilang ditelan rumput.

Aku tidak mau lagi keluar. Aku tidak mau lagi membuka pintu untuk siapa pun.

Persetan dengan kamus setia kawan milik mereka yang hanya aktif saat dompetku tebal. Persetan dengan bual cinta milikmu yang tidak lebih berharga dari rongsokan. Mulai sore ini, biarlah aku dicap gila. Biarlah aku membusuk dalam ruanganku sendiri. Aku memilih mengunci diri dari dunia, bukan karena aku takut sepi. Justru karena di dunia yang seramai ini, hanya sepi yang tidak pernah berpura-pura baik untuk kemudian menikamku dari belakang.

Aku mandiri dalam sunyiku. Benar-benar sendirian. Dan itu jauh lebih mewah daripada pura-pura bahagia di antara kalian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *