“Kamu itu guru, Nad, bukan model runway,” sindir Bu Lastri, menatap sinis dari balik kacamata tebalnya tiap kali aku lewat koridor.
Aku cuma senyum. Senyum andalanku: segar, alami, tipis-tipis. Tiga tahun mengajar kelas enam, dan dua tahun kelas lima membuatku berada di zona nyaman. Aku terbiasa pakai rok pensil pas badan, kemeja pastel yang tersetrika licin, dan high heels. Langkahku selalu punya irama: tuk, tuk, tuk. Anggun sekali. Anak-anak kelas tinggi juga anteng. Kami bisa praktikum seru tanpa membuatku keringatan secuil pun.
Sampai akhirnya surat sakti itu keluar dari ruang kepala sekolah: “Nadia Utami, S.Pd., wali kelas 1-B.”
***
Hari pertama, aku masih nekat. Aku datang pakai rok plisket warna pink yang manis, blus putih kaku, plus sepatu hak pendek. Siap tempur, pikirku.
Sialnya, baru jam sembilan pagi. Begitu badanku berbalik dari papan tulis setelah menulis huruf “B-A-P-A-K”, tiga bangku di pojok kanan sudah kosong melompong. Bumi (si biang kerok utama) lenyap. Dua anteknya, si kembar Rian dan Rion, juga raib.
Dua jam setelahnya adalah kekacauan paling gila dalam hidupku.
“Bumi! Rian! Rion!” Teriakanku yang biasa selembut sutra mendadak cempreng mirip peluit parkir liar.
Satu sekolah gempar. Kepala sekolah ikut muter-muter, satpam buru-buru gembok gerbang utama, dan tiga orang ibu sudah menangis histeris di ruang guru, mengira anak mereka diculik sindikat pasar gelap.
Aku? Aku ambruk di bawah pohon beringin sambil nangis sesenggukan. Maskara luntur, bikin mukaku mirip hantu. Rok pink kesayanganku basah kuyup kena keringat dingin. Aku terpaksa lari-lari nyari mereka sambil nyeker karena hak sepatuku patah di menit-menit awal. Di otakku sudah berputar bayangan buruk: dipecat, masuk koran, atau dituntut pasal kelalaian.
Pas jam sebelas, sebuah kepala kecil menyembul dari dalam tong plastik tempat bola di gudang olahraga. Disusul dua kepala lagi di belakangnya.
“Bu Guru Nadia, kok nangis?” tanya Bumi polos banget, matanya masih merah karena ngantuk.
“Bu Guru, Kami lagi main petak umpet sama bayangan, loh,” sahut Rian sambil ngelap ingus ke lengan kaus. Rion di sebelahnya cuma manggut-manggut sambil asyik ngupil.
Rasanya jantungku mau copot lewat ubun-ubun saat itu juga.
***
Hari kedua, aku menyerah pada kenyataan. Selamat tinggal baju-baju gemas.
Aku datang pakai celana longgar, kaus berkerah longgar, dan sepatu kets. Dandanan mirip kru panggung konser. Tapi tetep saja, pertahananku jebol.
“Bu Guru! Bumi naik tiang! Rian sama Rion gigit-gigitan!” jerit ketua kelas.
Aku langsung lari kencang ke lapangan. Benar saja, Bumi sudah nangkring di tiang bendera setinggi dua meter, meluk tiang mirip koala stres. Di bawahnya, Rian dan Rion lagi guling-gulingan di tanah, saling gigit lengan bak komodo rebutan makanan.
“Bumi, turun! Rian, Rion, lepas!” teriakku hampir kehabisan napas.
“Hap!”
Bumi lompat gitu aja. Tanpa ancang-ancang. Dia mendarat pas di depanku, lalu ngacir keliling lapangan sambil ketawa cekikikan. Belum sempat aku narik napas, Rian dan Rion yang baru pisah langsung nubruk kakiku, gelantungan di sana sambil nangis bareng-bareng.
Hari itu aku harus ganti baju sampai tiga kali. Kaus pertama basah kuyup gara-gara ketumpahan susu cokelat pas melerai perang krayon. Baju kedua lepek kena keringat pasca-kejar-kejaran di lapangan. Baju ketiga? Kena muntahan Rion yang pusing kebanyakan makan ciki curian.
Tas mengajar yang isinya dulu bedak dan parfum, sekarang berubah total. Isinya kaus ganti, celana training, minyak angin, sama tisu basah ukuran jumbo.
Tiap sore sampai di rumah, tubuhku langsung ambruk ke kasur. Jangankan mandi, buat gerakin jari kaki saja rasanya malas. Tenagaku habis, amblas dihisap sampai kering oleh zombi-zombi cilik beraroma minyak telon itu. Mereka brutal dan tidak bisa ditebak.
Tapi, di balik semua tensi darah yang naik-turun ini, selalu ada momen yang bikin hati melunak. Kayak waktu mereka bertiga tabrakan beruntun pas lari-larian sampai lututnya berdarah semua. Mereka nangis kejer berjamaah. Gak mau diobatin siapapun, maunya cuma meluk aku. Di dalam pelukan kaus oblongku yang sudah kotor dan bau keringat, tiga kepala itu nyembunyiin muka mereka yang basah. Di situ mereka merasa aman. Hatiku luluh total.
***
“Terus, kodok hijaunya jadi Ibu sita?”
Suara berat dan tawa renyah itu mendadak membuyarkan lamunanku. Aku mengerjap. Bau minyak telon, serutan pensil, dan lantai kelas yang berdebu instan lenyap dari indra penciumanku. Berganti aroma pekat biji kopi arabika yang baru digiling dan kepulan asap rokok tipis di sudut ruangan.
Aku tersenyum, menyeruput caffe latte-ku yang mulai mendingin. Di depanku, duduk tiga pemuda berkaus hitam dengan jaket almamater kampus ternama yang tersampir di sandaran kursi.
Bumi (bocah yang dulu nangkring di tiang bendera) sekarang sudah punya tinggi hampir seratus delapan puluh sentimeter dan rahang yang tegas. Di sebelahnya, duo kembar Rian dan Rion sibuk berebut kentang goreng, persis seperti cara mereka rebutan krayon belasan tahun lalu.
“Ya jadilah. Malah besoknya kamu bawa anak kucing ke kelas, ga mau kalah, kan?” sahutku sambil tertawa. Kerutan di ujung mataku pasti tercetak jelas, tanda kalau aku sudah tidak semuda dulu. Hari ini aku tidak pakai rok pink atau celana training longgar, melainkan blazer kasual yang nyaman.
“Sumpah, kalau diingat-ingat, kami dulu biadab banget ya, Bu,” Rion menggeleng-gelengkan kepala, menyesali masa lalunya. “Tapi anehnya, Bu Nadia gak pernah kapok. Malah makin kreatif bikin game di kelas biar kami mau duduk anteng.”
“Gimana mau kapok, kalian itu pawangnya cuma Ibu,” timpal Rian. Dia menatapku dengan mata yang sama persis seperti saat dia menyalamiku di depan gerbang sekolah dulu. “Kalau bukan karena sabarnya Bu Nadia yang telaten ngajarin kami baca dari nol, mungkin kami gak bakal bisa nembus bangku kuliah sekarang. Ibu yang bikin kami paham kalau aturan sekolah itu bukan buat dilanggar, tapi buat bikin kami selamat.”
Bumi mengangguk setuju, menaruh cangkir kopinya. “Betul. Cara mengajar Ibu itu seru banget, gak ngebosenin. Kami selalu kangen kelas satu karena Ibu selalu punya cara ajaib biar kami betah belajar.”
Aku menatap mereka bergantian. Dadaku mendadak sesak oleh rasa haru yang membuncah. Ternyata, semua peluh, baju yang basah kuyup hingga tiga kali sehari, hak sepatu yang patah, dan rasa lelah yang membuatku ambruk di kasur setiap sore dulu, tidak ada yang sia-sia.
Zombi-zombi cilik beraroma minyak telon itu kini sudah menjelma menjadi manusia-manusia dewasa yang hebat. Dan di dalam kepala mereka, nama Nadia Utami masih tersimpan rapi sebagai bagian dari alasan mereka bisa melangkah sejauh ini.
“Jadi,” Bumi mencondongkan badannya ke meja sambil tersenyum jahil, “habis ini Ibu kami traktir makan besar. Gak boleh ada penolakan dari Wali Kelas 1-B!”
Aku tertawa lepas, membiarkan hatiku luluh dan runtuh untuk kesekian kalinya oleh anak-anak yang sama.
***