Jangan Pernah Terobsesi dengan Logika Lelaki

[1/7] Aku rasa aku harus menulis ini sekarang sebelum semuanya terlambat. Ini bukan cerita fiksi, dan aku tidak butuh validasi kalian. Aku hanya butuh seseorang tahu apa yang terjadi pada diriku. Ini tentang Mas Danang, mantan pacarku.

[2/7] Aku tidak pernah tertarik pada fisik Mas Danang. Aku jatuh cinta pada isi kepalanya. Dia pria dengan pembawaan Jawa yang sangat tenang, tapi logikanya sedingin es. Tidak pernah marah, tidak pernah tertawa berlebihan. Kalimatnya selalu presisi, seakurat hitungan weton kuno. Karena penasaran, aku diam-diam merekam suaranya dan memetakan pola kalimatnya ke grafik komputer.

[3/7] Di sinilah keanehan dimulai. Hasil grafik emosinya mendatar sempurna. Nol fluktuasi. Manusia paling genius atau psikopat sekalipun pasti punya celah emosi saat berbicara. Tapi Mas Danang tidak. Dia seperti tidak sedang berpikir, melainkan sedang mengeksekusi sebuah kode mekanis yang sangat dingin di dalam kepalanya.

[4/7] Semalam, obsesiku berubah menjadi kepanikan. Aku membuntutinya menembus kabut tebal ke sebuah rumah joglo runtuh yang terbengkalai di batas desa. Lewat celah dinding kayu lapuk, aku melihatnya berdiri kaku di depan cermin berkarat. Di bawah temaram bulan, dia meraba rahangnya, lalu mengelupas kulit wajahnya sendiri. Tanpa ada setetes pun darah.

[5/7] Di balik kulit itu, tidak ada tengkorak atau otak. Rongga kepalanya kosong, hanya dipenuhi ribuan lembar daun lontar hitam legam yang berputar mekanis dan saling bergesekan ritmis. Daun-daun itu secara otomatis mencetak baris-baris aksara kuno berwarna perak. Dia bukan manusia. Dia adalah sebentuk konsep logis yang hidup.

[6/7] Sebelum aku sempat menjerit, suara gesekan daun lontar itu mendadak berhenti. Bunyinya langsung berpindah dan bergetar hebat di dalam tempurung kepalaku sendiri. Seluruh otot tubuhku terkunci seketika. Aku sadar, rasa penasaranku selama ini adalah umpan yang sengaja dia tebar agar pikiranku sukarela menyerahkan diri.

[7/7] Sekarang, saat aku mengetik utas ini di kamar, aku sudah tidak bisa menggerakkan kakiku. Daun-daun lontar hitam itu kini telah memenuhi seluruh isi otakkku, berputar, mengambil alih kesadaranku. Mas Danang berdiri di sampingku, tersenyum simetris sambil berbisik bahwa logikanya harus disebarkan. Selesai membaca utas ini? Bagus. Sekarang giliran kepalamu yang mulai mendengar bunyi gesekan kertas itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *