
Zaman saya sekolah dahulu, menjadi murid atau orang tua itu ada rasa “uji nyalinya”. Kalau sampai lupa jadwal seragam atau abai terhadap tugas sekolah, taruhannya cuma dua: malu sampai ke ubun-ubun atau sukses berdiri tegak di tengah lapangan, disinari cahaya Tuhan sembari memandang kagum ke arah tiang bendera.
Hasilnya? Anak-anak zaman old mau tidak mau dituntut untuk mandiri. Kenapa? Karena kami semua tahu, bertanya langsung kepada guru itu butuh keberanian tingkat dewa, bukan sekadar modal jempol sembari rebahan dan menonton video lucu. Ada jarak horizontal dan vertikal yang membuat kita otomatis tahu diri.
Maka, saya masih ingat betul, dahulu kalau saya sakit, orang tua bakal sibuk berburu kertas lembaran, lalu ditulis rapi pakai pulpen (kalau bisa tintanya warna emas biar kelihatan estetik dan meyakinkan).
Setelah itu dilipat rapi, dimasukkan amplop, lalu diantar langsung dengan penuh takzim. Urusan gaya pengantaran di jalan, mau jalan kaki santai atau mendadak menunggangi elang terbang ala sinetron kolosal, itu nomor dua. Yang penting, adabnya tetap nomor satu.
Itu bukan sekadar surat izin absen biasa, Kisanak. Itu adalah ritual adab! Ada tetesan keringat, ada usaha nyata, dan ada harga diri yang diserahkan dengan hormat di dalam amplop tersebut. Bagi kita yang telanjur hidup nyaman di era serba instan ini, cerita tadi bukan sekadar ajang pamer masa lalu. Ini bukti nyata kalau karakter manusia itu sejatinya ditempa lewat proses manual yang berdarah-darah, bukan lewat jalur tol gratis hambatan.
Sekarang? Teknologi memang makin hari makin genius, tapi kelakuan sebagian penggunanya malah sering bikin kita ingin mengelus dada tetangga. Semua orang mendadak ingin serba kilat. Izin tidak masuk sekolah sekarang tinggal modal ketikan jempol di WhatsApp, itu pun dikirim sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Sangat praktis, memang. Namun sayangnya, kepraktisan yang kebablasan ini sukses membunuh rasa sungkan kita sampai ke akar-akarnya.
Seorang teman yang kebetulan berprofesi sebagai guru pernah curhat soal fenomena “amnesia waktu” ini. Ceritanya sukses membuat saya geleng-geleng kepala bergantian. Bayangkan saja, jarum jam sudah mantap menunjukkan pukul 23.30. Di saat manusia normal sudah hanyut dalam tidur nyenyak, tiba-tiba ponselnya bergetar hebat seperti ada gempa lokal. Begitu layar dibuka dengan panik, ternyata ada chat keramat dari orang tua murid yang bertanya: “Bu, besok anak-anak pakai seragam warna apa, ya?”
Mendengar cerita horor komedi itu, andai saya yang berada di posisi sang guru, rasanya seperti ingin nekat bertamu ke rumah Pak RW untuk meminta cap stempel di tengah malam buta. Benar-benar sebuah tindakan ajaib yang sangat tidak pas pada waktunya. Sungguh sebuah fenomena unik yang memaksa kita tersenyum kecut sambil mengelus dada sendiri (bukan dada tetangga lagi).
Di sinilah letak puncak komedi kehidupan yang sebenarnya. Kita-kita ini, yang secara usia sudah matang dan paling rajin menceramahi anak muda tentang pentingnya sopan santun, justru malah sering menjadi pelaku utama yang paling kebablasan memanfaatkan kemudahan teknologi.
Tentu saja, Bapak atau Ibu Guru di luar sana punya hak veto untuk langsung menarik selimut dan mengabaikan pesan horor tengah malam tersebut, demi menjaga kesehatan jiwa dan raga mereka. Namun, esensi masalahnya bukan tentang bagaimana cara guru merespons gangguan tersebut, melainkan tentang rasa tenggang rasa kita sebagai pengirim, yang tampaknya sudah ikut terlelap bersama sunyinya malam.
Memiliki nomor WhatsApp pribadi seorang guru, bukan berarti kita otomatis memegang remote kontrol yang bisa memanggil mereka selama 24 jam penuh. Menggedor pintu ruang personal mereka di tengah malam buta hanya demi urusan sepele (yang sebenarnya sudah terpampang nyata di grup paguyuban atau lembar pengumuman) tentu terasa sangat kurang bijak.
Kejadian seperti ini terkadang membuat saya mendadak rindu dengan romantisnya proses komunikasi manual di masa lalu. Bayangkan, jika hanya untuk menanyakan warna celana seragam buat besok pagi, kita diwajibkan sibuk mencari kertas, menulis rapi dengan pulpen, memasukkannya ke dalam amplop, lalu mengantarkannya sendiri ke sekolah malam itu juga.
Prosesnya sengaja dibuat panjang dan melelahkan, agar kita punya waktu untuk merenung sejenak: “Apakah pertanyaan ini benar-benar darurat?”
Ini dapat menjadi bahan refleksi bersama bagi kita semua. Kemudahan kuota internet modern yang makin murah dan melimpah, jangan sampai membuat adab dan cara kita berkomunikasi ikut-ikutan menjadi murahan.
Intinya, silakan saja ganti ponsel Anda ke versi yang paling mutakhir, tapi tolong, tombol sungkan dan aplikasi tenggang rasanya jangan sampai ikut di-uninstall dari dalam diri.