Telaga Sunyi

Aksara, aku pernah keras kepala menetap
di bawah atap yang bocor oleh rintik waktu.
Kutampung hujan yang jatuh dari langit berlapis dua,
hujan yang dikirim oleh seseorang yang membagi basahnya di ranjang yang lain.
Kulitku melepuh oleh dingin yang ia kirim lewat pos,
seolah sesak di dada ini cukup diredam
oleh segelas air keruh dari masa lalu yang karam.


Namun, di sebuah wilayah yang lengang dan tak ada di peta,
ada telaga yang telah selesai dengan kesepiannya sendiri.
Seorang berdiri di tepiannya, seperti menara pengawas,
memandangi air, memastikan tidak ada rindu lain yang berani beriak.
Ia melipat bayanganku, menyimpannya dengan rapi di dasar terdalam,
lalu menawarkan seisi bumi yang lapang dalam sebuah amplop,
bumi tanpa badai, tanpa ombak rahasia yang mengancam.


Nalar kita, Aksara, memang tidak pernah punya kompas
untuk mencatat rute perjalanan segila ini.
Aku mengira diriku seorang penjelajah samudera,
padahal hanya sepotong bayang yang betah memeluk basah.
Kutiup padam lampu-lampu kota yang benderang,
hanya demi mengejar sepasang kunang-kunang di matamu;
kunang-kunang yang bersiap mati pelan-pelan
dalam pelukan hujan yang mengkhianati musim.


Sebelum malam habis disita oleh fajar yang dingin,
pintu yang berderit itu kubiarkan merapat tanpa suara.
Kutinggalkan payung yang patah di sudut teras seperti monumen kekalahan.


Ada sepasang sandal tua yang hanyut ke arah riak yang paling tenang,
membawa sisa debu perjalanan yang kini perlahan larut,
sementara di dermaga itu, sunyi telah mengunci segalanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *