Menyalin Mahakarya
"Hei kamu, iya kamu..."Suara itu hanya bergema di dalam kepalaku, tertahan di ujung lidah setiap kali sosoknya melintas di koridor perpustakaan yang sepi. Lelaki itu tidak berjalan; ia seolah meluncur,…[...]
Read More
"Hei kamu, iya kamu..."Suara itu hanya bergema di dalam kepalaku, tertahan di ujung lidah setiap kali sosoknya melintas di koridor perpustakaan yang sepi. Lelaki itu tidak berjalan; ia seolah meluncur,…[...]
Read More
Di hadapan selembar kertas yang masih putih bersih ini, kuletakkan penaku dengan tangan yang gemetar. Malam telah sepuh, angin gunung berembus dingin menembus kisi-kisi jendela, namun panas di dalam dadaku…[...]
Read More
Gerimis baru saja membasuh aspal Jalan Jaksa. Aku menyulut kretek ketiga. Di depanku, secangkir kopi hitam yang dingin dikerubuti dua ekor semut mati. Aku menatap jalanan. Memantulkan lampu neon hotel…[...]
Read More
Sabtu pagi kami jarang dibuka dengan obrolan santai di teras atau sesapan kopi hangat yang tenang. Alih-alih aroma arabika, bau menyengat lem kuning dari luar pintu selalu lebih dulu menyergap…[...]
Read More