
Bagi saya, memperhatikan dinamika obrolan di grup WhatsApp itu sama menariknya dengan membaca buku sejarah. Kadang menghibur, tapi tidak jarang bikin geleng-geleng kepala.
Salah satu fenomena digital yang paling sering saya amati akhir-akhir ini adalah bagaimana sebuah stiker kecil berukuran beberapa kilobita sukses menggeser posisi tata krama dan empati manusia.
Beberapa hari lalu, sebuah grup WA yang saya ikuti mendadak senyap. Salah satu anggota baru saja membagikan kabar duka cita yang sangat menyayat hati. Namun, belum genap satu menit (bahkan mungkin teks itu belum selesai dibaca utuh) sebuah respons muncul secepat kilat.
Bukan kalimat belasungkawa yang hangat, melainkan stiker karakter Patrick Star yang sedang menangis dengan air mata mengalir seperti keran bocor. Di bawahnya, menyusul stiker mawar layu bertuliskan “Turut Berduka Cita” yang resolusi gambarnya pecah-pecah.
Saya tertegun lama menatap layar ponsel. Sungguh sebuah efisiensi empati yang luar biasa sekaligus mengerikan.
Secara fungsi, stiker WhatsApp awalnya diciptakan sebagai bumbu penyedap obrolan agar terasa lebih jenaka. Di masa-masa awal kemunculannya sekitar tahun 2018, stiker digunakan secara proporsional untuk memicu tawa. Namun hari ini, fungsinya sudah bergeser jauh. Ia telah naik pangkat menjadi juru bicara resmi perasaan manusia yang celakanya, sering kali salah kostum dan bebal konteks.
Fenomena ini seketika membuat saya merindukan masa lalu. Di zaman dulu, ketika teknologi komunikasi masih terbatas pada SMS yang tarifnya dihitung per karakter, orang-orang justru masih meluangkan waktu untuk merangkai kata doa yang tulus. Teks ucapan “Assalamualaikum” atau “Turut berduka cita, semoga keluarga diberi ketabahan” diketik manual huruf demi huruf dengan penuh kesadaran.
Sekarang, di era internet melimpah ruah, kita justru mengidap penyakit malas akut stadium lanjut. Mengetik ucapan salam sepanjang belas huruf saja rasanya seperti disuruh memindahkan Ibu Kota.
Solusi instannya? Kirim stiker kucing berpeci yang sedang bersedekap. Urusan kesopanan dan syariat agama langsung dianggap lunas dalam sekali ketuk. Kita telah mendelegasikan kewajiban silaturahmi kita kepada seekor hewan digital.
Nahasnya, kegilaan ini menular hingga ke ranah spiritual yang sakral seperti doa. Ketika ada teman yang meminta doa untuk kesembuhan atau kelancaran ujian, ruang obrolan mendadak berubah menjadi galeri seni rupa kelas rendah.
Muncul stiker dua telapak tangan menangkup dengan efek kilau emas ala kadarnya. Bahkan saking malasnya menyaring koleksi stiker di galeri, ada saja jempol usil yang mengirim stiker bocah melongo atau karakter anime konyol. Nol empati, nihil beban moral.
Puncak dari segala komedi getir ini tentu saja terjadi di momen bela sungkawa. Mengirim ucapan duka lewat stiker itu ibarat Anda datang melayat ke rumah duka, lalu melemparkan brosur duka cita tepat ke wajah ahli waris sambil melengos pergi begitu saja. Tidak ada kehangatan yang mengalir, yang ada hanyalah pameran kemiskinan rasa.
Padahal, kita lupa bahwa menulis dan merangkai kata sebenarnya adalah kawah candradimuka bagi manusia untuk merawat kewarasan dan belajar menghargai sesama. Melalui tulisan, kita belajar menyelaraskan apa yang ada di hati dengan apa yang keluar lewat jempol.
Ketika emosi, doa, dan rasa hormat kita sudah direduksi menjadi sekadar piksel gambar kartun yang lucu, di situlah sejatinya literasi rasa kita sedang mati suri.
Teknologi modern harusnya memanusiakan kita, bukan malah mengubah kita menjadi robot yang gagap mengekspresikan rasa duka dan cinta tanpa bantuan karakter kartun.
Jadi, sebelum jempol kita kembali gatal mengetuk stiker Spongebob untuk merespons kabar penting, tidak ada salahnya kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: apakah kita sudah terlalu malas hanya untuk sekadar menjadi manusia yang punya hati?