Memotong Senja

Mas Daeng sayang,

Kau tahu, Sayang?

Orang-orang di luar sana seperti senja di televisi,
datangnya cuma sebentar, lalu pamit diganti iklan sabun cuci.

Hanya kau satu-satunya manusia,
yang sekokoh batu karang di Pantai Losari,
menolak rubuh dan betah menemaniku di kegelapan yang paling pekat sekalipun.

Saat duniaku hampir kiamat karena kehabisan stok kewarasan,
kau nekat memotong senja dengan gergaji mesin milik tetangga.

Kau kantongi warna jingganya,
lalu kau tempel di langit kamarku,
hanya agar aku percaya bahwa hari esok akan baik-baik saja.

Terima kasih Sayang,
sudah rela dicap gila oleh semesta,
demi menemaniku yang juga tidak waras-waras amat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *