“Namanya Juga Anak-anak”

Ya ampun, lumayan kesel memang, kalau mendengar kalimat sakti ini: “Namanya juga anak-anak.”

Sebuah kalimat tameng yang sering banget dipakai orang tua untuk memaklumi kelakuan buah hatinya yang mulai merusak kenyamanan publik. Mulai dari anak yang menjerit-jerit histeris, berlarian di tempat yang tak seharusnya, sampai merusak fasilitas umum.

Ajaibnya, dengan modal satu kalimat itu, semua kesalahan dianggap lunas. Orang tuanya melenggang bebas tanpa rasa bersalah, sementara kita yang di sekitarnya dipaksa mengelus dada sambil membatin, “Kok ya ndak diajari sopan santun, toh?”

Fakta Lapangan vs Teori di Atas Kertas

Mengapa saya memberikan atensi pada masalah ini? Sederhana, mari kita bicara fakta lapangan, bukan cuma teori di atas kertas.

Saya punya keponakan, usianya belum genap dua tahun. Di usia seimut itu (fase di mana anak biasanya paling susah diatur) saat dia rewel menginginkan sesuatu, saya ndak pernah membalasnya dengan bentakan, apalagi pembiaran dicuekin begitu saja.

Saya pilih berjongkok biar sejajar dengan matanya, saya ajak bicara, lalu saya jelaskan situasi pelan-pelan dengan lembut. Hasilnya? Dia mendengarkan. Dia berhenti rewel.

Logikanya, kalau anak yang usianya belum genap dua tahun saja sudah bisa diarahkan dengan komunikasi yang pelan, harusnya anak-anak yang usianya lebih besar bisa jauh lebih tahu aturan, toh? Jadi, ini murni soal pola asuh yang konsisten, bukan faktor keberuntungan karena anaknya bawaan orok memang “penurut”.

Anak Adalah Fotokopi Terbaik Orang Tua

Saya ingat betul salah satu teori dari psikolog ternama, Albert Bandura. Beliau punya konsep namanya Social Learning Theory. Wis, ndak usah pusing dengan istilah ilmiahnya, intinya begini: anak-anak itu adalah peniru ulung, alias fotokopi terbaik dari orang tuanya. Mereka belajar mengontrol diri dan berperilaku ya dari melihat lingkungan terdekatnya.

Kalau ibunya sehari-hari suka berkomunikasi dengan urat leher yang menegang dan teriakan, ya jangan kaget kalau si anak meniru cara yang sama untuk mengekspresikan keinginannya. Menjerit-jerit minta mainan, misalnya.

Kebalikannya, kalau anak dibiasakan mendengar dialog yang tenang dan adem, mereka juga akan belajar mengelola emosinya dengan kepala dingin. (Tentu saja, catatan ini dikecualikan bagi anak-anak hebat yang membutuhkan penanganan profesional medis lho ya).

Bahaya Pola Asuh “Serba Boleh” (Permissive Parenting)

Tapi begini ya, secara pribadi sering memaklumi anak dengan dalih “Namanya juga anak-anak” itu sebenarnya wujud dari permissive parenting alias pola asuh yang serba boleh. Ada ahli namanya Diana Baumrind yang pernah meneliti masalah ini.

Pola asuh yang terlalu melonggarkan aturan tanpa batasan tegas begini bahaya banget. Pas gede, si anak bisa tumbuh jadi pribadi yang egois, susah mengontrol diri, dan gagap menghargai batasan sosial masyarakat.

Lalu pertanyaannya, bagaimana kalau nasi sudah telanjur jadi bubur? Gimana kalau si anak telanjur tumbuh jadi anak yang gampang tantrum dan mengamuk di depan umum? Apakah harus pasrah dan terus memakai tameng “namanya juga anak-anak” tadi?

Ya ndak begitu dong. Kita masih bisa memperbaiki polanya lewat metode yang namanya Modifikasi Perilaku (Behavior Modification).

2 Langkah Mengatasi Anak Tantrum di Depan Umum

  1. 1. Jangan Turuti Kemauan Anak Saat Tantrum
    Kalau anak menangis lalu kita langsung kasih apa yang dia mau supaya dia diam, si anak akan belajar satu hal: “Oh, kalau aku menjerit, keinginanku bakal dituruti.” Dalam ilmu psikologi, ini disebut Positive Reinforcement, di mana kita secara tidak sengaja “memberi hadiah” dan memperkuat perilaku yang salah tersebut. Jadi, biarkan dia tenang dulu. Temani tanpa perlu ditekankan lewat omelan.
  2. 2. Latih Anak Mengenali Emosinya (Emotional Regulation)
    Saat dia sudah tenang, ajak ngobrol: “Kamu tadi marah ya karena ndak dibelikan mainan? Marah itu boleh, tapi jerit-jerit ndak boleh.” Dengan begini, kita mengajarkan anak bahwa emosi itu valid, tapi cara meluapkannya ada aturannya.

Ruang Publik Bukan Halaman Belakang Rumah Kita

Mendidik anak memang butuh stok sabar yang ndak ada habisnya, mirip mengantre bansos. Tapi, pemakluman yang kebablasan itu bukan wujud kasih sayang, melainkan bentuk pengabaian yang terselubung. Menjadi orang tua atau pendidik itu tugasnya mengarahkan tindakan, bukan cuma maklum dan maklum terus.

Sebagai guru dan seorang tante muda nan cantik, saya tahu kapan harus menegur murid atau keponakan sendiri ketika kelakuan mereka mulai merampas ketenangan orang lain.

Ingat, ruang publik itu bukan halaman belakang rumah kita sendiri. Kenyamanan di dalamnya itu milik bersama, bukan milik keluarga kita saja. Urusan menjaga ketertiban di ruang publik bukanlah soal siapa yang sudah punya anak atau belum, melainkan soal tenggang rasa antarmanusia.

Anak-anak memang belum mengerti aturan dunia, dan di situlah fungsi moral kita sebagai orang dewasa diuji. Jangan jadikan kepolosan mereka sebagai tameng atas kemalasan kita dalam mengasuh.

Didiklah anak dengan hati dan ketegasan, bukan dengan dalih pemakluman. Menghargai kenyamanan bersama di ruang publik adalah pelajaran pertama tentang tenggang rasa yang harus mereka bawa hingga dewasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *