Tanya di Ujung Fajar

Aku cemburu pada mata itu,
yang mencuri tatapmu di awal fajar,
saat kantukmu belum genap memudar.

Aku cemburu pada sepasang tangan,
yang mampu merengkuh tubuhmu,
di tengah lelah yang menyergap penatmu.

Bahkan pada angin malam, aku menaruh rindu,
ia yang dengan lancang membelai rambutmu,
menyentuh kulitmu setiap detik tanpa ragu.

Lalu di ujung sepi, tanyaku melayang kepadamu:
apakah kau juga merasakan riak yang sama?
mencemburui apa saja yang bergerak lebih dekat denganku?

Atau jangan-jangan, kau tak lagi butuh tangan lain,
kau tak lagi mencari sepasang mata yang lain,
karena di dalam hatimu, kau telah penuh?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *