Kita melangkah di bawah langit yang sama, tetapi mendiami semesta yang berbeda. Aku tahu kamu lahir jauh sebelum hari-hariku dimulai, membawa tumpukan waktu yang membuatmu merasa paling paham tentang isi dunia. Aku pun tidak pernah menyangkal bahwa isi kepalamu jauh lebih luas dan pandai daripada apa yang mampu kupikirkan. Namun, mengapa kecerdasan itu bertransformasi menjadi senjata? Mengapa kamu begitu gemar membuatku merasa kerdil, seolah-olah eksistensiku di matamu hanyalah sebuah titik kecil tanpa arti.
Aku akui, aku adalah manusia dengan ribuan celah. Aku keras kepala, memeluk egoku dengan erat saat badai datang. Aku adalah sumbu pendek yang mudah tersulut oleh rasa kecewa. Di matamu, aku adalah daftar panjang dari segala hal yang kurang dan tidak pernah cukup. Setiap sudut diriku yang coba kuperbaiki selalu gagal memenuhi standar tinggi yang kamu ciptakan.
Aku tidak pernah mengikatmu dengan rantai kewajiban. Aku bahkan tidak pernah memaksamu untuk terus melangkah berdampingan atau menetap di dalam peliknya hidupku. Pintu ini selalu terbuka. Jika mendengarkan suaraku sudah membuatmu lelah, dan jika melihat langkahku hanya membuatmu jengah, pergi saja.
Mungkin, melangkah pergi adalah jalan terbaik bagi kita berdua. Pergilah, daripada kamu terus bertahan hanya untuk menjadi hakim yang membuatku selalu merasa kerdil, rapuh, dan bodoh di rumahku sendiri.