Garasi Kosong, Jalanan Penuh

Hanya Ilustrasi ya…..

Ga ada angin, ga ada hujan, ujug-ujug seorang teman curhat ingin pindah rumah. Pemicunya sepele tapi bikin tensi naik: tetangganya hobi parkir mobil sembarangan di jalan perumahan. Padahal, pihak developer sudah menyediakan kantong parkir khusus di ujung blok untuk warga yang mobilnya lebih dari satu. Solusi yang solutif, toh? Tapi namanya manusia, ada saja yang ngeyelan.

Lucunya, saat ditegur karena jalannya terhalang, si tetangga dengan santai menjawab, “Kalau susah lewat, tinggal ketok saja pintu rumah saya.” Lho, gimana konsepnya? Sampeyan yang menyusahkan, kok orang lain yang diberi PR mengetok pintu setiap hari? Dikira yang sibuk cuma dia saja? Bagaimana kalau ada urusan darurat seperti ambulans atau pemadam kebakaran? Apa harus antre ketok pintu dulu? Sungguh penalaran yang bagong.

Ajaibnya lagi, si tetangga berdalih boleh parkir di mana saja karena dia warga pertama yang tinggal di sana alias merasa senior. Padahal saat diintip, garasi rumahnya kosong melompong. Mungkin garasinya sengaja dikosongkan untuk lapangan tenis, saya juga kurang paham.

Dalam Islam, urusan bertetangga ini sangat serius. Menghalangi jalan umum itu termasuk perbuatan zalim. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Logikanya, kalau menyingkirkan kerikil di jalan saja dapat pahala, ya menaruh mobil segede gaban di jalan umum itu jelas nambah-nambahin dosa.

Bagi yang masih ngeyelan dengan dalil agama, hukum negara juga siap menjerat. Berdasarkan Pasal 671 KUHPerdata, jalan bersama tidak boleh digunakan untuk kepentingan pribadi tanpa izin. Secara pidana, pelakunya bisa dijerat Pasal 493 KUHP tentang perbuatan yang membahayakan kebebasan bergerak orang lain di jalan, serta UU Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan yang melarang gangguan fungsi jalan di permukiman. Jadi, merasa senior sejak zaman purba pun tidak membuat seseorang kebal hukum.

Untuk temanku, tetap kuat menghadapi cobaan berwujud tetangga ini. Saya bersyukur ini ceritamu, bukan ceritaku, hehehe. Kalau saya di posisi itu, mungkin kaca mobilnya sudah saya tempeli stiker: “Mobil elit, parkir sulit.”

Jadi buat kita semua, tolong konsep “menyusahkan orang lain” ini dibuang jauh-jauh. Mari kita kosongkan jalan bersama dari ego masing-masing. Jangan sampai mobilnya kinclong mengkilap, tapi catatan amalnya burem gara-gara setiap hari disumpahi tetangga sekomplek yang jalannya terhalang. Saling menjaga kenyamanan, yuk bisa yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *