Menggantung Hari Esok di Langit Kamar

Mas Daeng,

Lucu sekali.

Malam ini adik ingin buru-buru melipat waktu dan segera tidur.

Bukan karena lelah oleh riuhnya Balikpapan,

di mana lampu-lampu kilang minyak di pinggir pantai berkedip seperti kunang-kunang raksasa yang kesepian,

melainkan agar esok hari melompat lebih cepat dari balik jendela kamarku.

Karena, esok adalah sepotong waktu yang kau janjikan,

sebuah ruang di mana kita sepakat untuk saling menatap.

Kau bukan sekadar bualan kata yang menguap bersama angin laut.

Kau merawatku dengan sikap nyata,

dengan langkah yang pasti.

Kau adalah manusia yang menjaga janji,

seperti nyala lilin di tengah badai Teluk Balikpapan.

Di kota yang sibuk bertumbuh dan melindas rindu di bawah aspal jalanan,

kau selalu punya cara untuk berjalan menembus cuaca buruk,

menjinakkan petir malam,

dan mengetuk pintuku tepat waktu.

Mungkin itu semua kau lakukan karena kau benar-benar membutuhkanku.

Mungkin juga karena kau mencintai seluruh keriwehan dan isi kepalaku yang berisik.

Kau mungkin akan tertawa membaca ini,

lalu berkata: “Sejauh ini, kau masih berpikir rasa itu hanya ‘Mungkin’?”

Yah, begitulah wanita.

Atau tepatnya—wanitamu.

Mas Daeng,

di dunia yang serba palsu ini,

terima kasih telah mengusahakan kita.

Terima kasih telah menepati janji itu melalui setiap perbuatanmu,

bahkan ketika seluruh isi kota ini bersikeras memisahkan kita.

Besok,

biarlah senja di Melawai menjadi saksi bahwa kita berhasil menang.

Tentu saja, dengan segenggam jagung bakar manis di tangan.

Bukankah begitu, Mas Daeng?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *