Belum Selesai Ditulis
Aku membuka mata dan—entahlah—dunia langsung terasa terlalu bising. Tapi aku tidak mau mengutuk apa pun hari ini. Tuhan sudah baik, anugerah-Nya masih bisa kurasakan di sela-sela napas yang agak sesak…[...]
Read More
Aku membuka mata dan—entahlah—dunia langsung terasa terlalu bising. Tapi aku tidak mau mengutuk apa pun hari ini. Tuhan sudah baik, anugerah-Nya masih bisa kurasakan di sela-sela napas yang agak sesak…[...]
Read More
Di tengah ruangan, tubuh ayahnya membujur kaku di atas kasur tanpa dipan. Hanya dibungkus kain putih, ditutup kain jarik cokelat lawas yang warnanya sudah pudar. Hidungnya sudah disumpal kapas. Selesai…[...]
Read More
Sebagai guru, hati saya hancur dan tercekat waktu mendengar kabar tentang teman sejawat kami. Guru SD Negeri Balikpapan Timur yang dikeroyok sampai terluka hanya karena menegur pelajar yang asyik merokok…[...]
Read More
Aku merindukanmu. Sederhana, tapi betah sekali ia tinggal di kepalaku. Aku merindukan kalimat-kalimatmu yang selalu tahu cara menjinakan isi kepalaku. Aku rindu caramu melucu, lelucon-lelucon yang sebetulnya biasa saja tapi…[...]
Read More
Malam bajingan. Aku tahu aku bodoh. Jari-jariku sampai memutih karena meremas guling ini terlalu erat, seolah-olah kain usang ini punya dada yang bisa membalas dekapanku. Guling ini dingin. Bau apek.…[...]
Read More
Jam dinding di kamar ini mati pas jam empat lewat lima belas, tepat saat seekor lalat hijau gemuk mendengung frustrasi terjebak di sela kaca jendela. Kubiarkan saja benda itu mati.…[...]
Read More
Lantai semen Pasar Sentral yang kupijak sudah retak-retak, selekas nasib lapak loak kami yang digusur perda tata kota minggu lalu. Senja mendarat dengan tergesa di mataku, membawa bau amis parit,…[...]
Read More
Sapardi pernah berbisik bahwa tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni. Namun bagiku, ia keliru. Ada yang jauh lebih tabah sekaligus sunyi, yaitu sepotong hati yang memilih mengekalkan…[...]
Read More
"Kamu itu guru, Nad, bukan model runway," sindir Bu Lastri, menatap sinis dari balik kacamata tebalnya tiap kali aku lewat koridor. Aku cuma senyum. Senyum andalanku: segar, alami, tipis-tipis. Tiga…[...]
Read More