September

Selamat pagi, lelaki kebanggaanku. Di antara rintik hujan pagi ini, namamu selalu jadi doa yang paling sering kupanjatkan. Semoga harimu sehangat rinduku padamu. Kau tahu, hari ini aku melangkah menuju rutinitas di bawah kanopi langit yang meluruhkan gerimis tanpa jeda; persis seperti cintaku padamu, sebuah rindu yang gigih merawat basahnya, meski tak pernah dijanjikan muara.

Bagaimana kabarmu di sana? Apakah pagi ini kau kembali membiarkan lambungmu kosong dan hanya mencumbui uap kopi hitam tanpa gula yang pekat itu? Seolah pahitnya adalah satu-satunya kawan yang kau izinkan menetap sebelum hari benar-benar riuh.

Dengarlah, kumohon muliakanlah ragamu. Jangan biarkan dinding lambungmu meronta dalam kesunyian, memohon asupan yang kau ganti dengan pekatnya kafein. Aku tak sanggup melihat sosok yang paling kupuja, dan kubanggakan ini harus tumbang dan terbaring ringkih, hanya karena kau membiarkan raga itu meratap tanpa nutrisi.

***

Selamat siang, Pemilik Teduhku. Ketahuilah bahwa seluruh kagum yang kurawat pagi tadi, kemarin, hingga ribuan senja yang lalu, masih bersemi dalam rupa yang sama. Barangkali, ia telah memutuskan untuk menetap dan menua di sana, melampaui hitungan tahun yang sanggup kita bayangkan.

Tahukah kau? Siang ini semesta sedang bercanda. Aku mendengar namamu mengalun dalam percakapan kawan-kawanku, bertukar kisah tentang kekaguman yang mereka sematkan padamu. Aku hanya mampu menyesap tawa kecil dalam hening, sembari membenarkan dalam hati: mereka memang tak salah arah dalam mengagumi, sebab kaulah muara dari segala yang patut dibanggakan.

Kuharap, siangmu tak sekadar dihabiskan dengan menyesap remah biskuit, dari kaleng legendaris berlukiskan keluarga yang tak pernah lengkap itu. Muliakanlah dirimu dengan santapan yang semestinya, wahai lelaki yang seluruh jagat banggaku berpusat padamu. Jangan biarkan ragamu hanya ditopang oleh sepotong renyah yang fana.

***

Malam ini aku telah kembali ke pelukan rumah, namun langkahku sempat tertahan pada sebuah kedai kopi di sudut jalan. Anehnya, pada setiap sesap kafein yang menjamah lidah, ada aroma rindu yang ikut menguar; sebuah wangi yang teramat kukenali, seolah kamu sedang diseduh dalam cangkirku.

Usai menyesap kafein yang perlahan menjelma bayangmu, aku pun menghimpun tabah untuk menyongsong sunyi malam yang menggigil sendirian. Langkahku terhenti pada kedai-kedai yang menyajikan kegemaranmu, hidangan tanpa jejak daging di dalamnya. Aku membelinya hanya untuk merayakan hadirmu dalam ketiadaan, sebab aku teramat paham betapa kau menjauhi segala yang bernyawa di atas piringmu.

Kuharap, malammu tak terlalu lebam oleh lelah, meski kudengar kau kembali bersiaga di antara lorong-lorong putih rumah sakit itu. Semoga kantuk masih sudi menjemputmu dengan lembut, memberi jeda pada jemari yang tengah berjudi dengan takdir orang lain, agar kau tetap bisa memeluk tenang di tengah deru cemas yang tak henti.

Dari diri yang selalu bangga terhadapmu.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *