Di Kota Valdo-Pania, teknologi bukan lagi sekadar alat pembantu, melainkan penentu kebenaran. Puncaknya terjadi ketika Prof. Oteys Preko de Ville, seorang ilmuwan jenius dengan rambut yang selalu berantakan, menciptakan Amoris-Meter.
Alat itu kecil, elegan, dan terselip di telinga seperti earpiece minimalis. Cara kerjanya sederhana namun mematikan bagi para pecinta: cukup pakai alatnya, gandeng tangan pasanganmu, dan tring! Sebuah angka digital akan melayang di udara, menunjukkan kadar cinta secara presisi dari skala 1 hingga 100.
Bagi para wanita di Valdo-Pania, ini adalah kado dari surga. Tak perlu lagi ada sesi drama malam hari hanya untuk menanyakan, “Kamu sayang aku nggak?” Pertanyaan itu biasanya dijawab dengan kalimat klise bin menyebalkan, seperti: “Nilai saja sendiri, masa nggak berasa?” atau “Kita sudah nikah lima belas tahun, anak sudah tiga, masih nanya?”
Kini, mereka tak butuh jawaban muluk-muluk. Cukup tarik tangan suaminya, lihat angkanya, dan hati pun tenang. Jika angka menunjukkan 95, maka makan malam akan terasa nikmat. Jika angka cuma 40, siap-siap saja sang suami tidur di sofa.
Sebaliknya, bagi para pria, Amoris-Meter adalah kiamat kecil. Mereka tahu betul bahwa cinta itu fluktuatif, naik-turun seperti ingus anak kecil.
“Bagaimana kalau aku sedang lelah kerja, lalu istriku tiba-tiba cosplay jadi Hanoman Obong karena aku lupa membuang sampah? Pasti angka itu turun drastis! Bisa mati aku,” keluh seorang warga di kedai kopi.
Para pria mulai memakai sarung tangan tebal atau pura-pura tangannya sedang terluka demi menghindari ritual “cek kadar” harian.
Kekacauan mencapai puncaknya di sebuah rumah di ujung gang sempit. Pak Bambang, seorang kolektor burung berkicau, dipaksa istrinya memakai Amoris-Meter. Sang istri tersenyum puas saat angka menunjukkan 80 ketika mereka bergandengan.

Namun, petaka terjadi saat Pak Bambang sedang asyik memberi makan burung Murai kesayangannya. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh sangkar besi itu saat masih memakai alat tersebut. Sensor sensitif Amoris-Meter yang mendeteksi aliran listrik statis tubuh Pak Bambang mendadak kacau. Alat itu mengira sangkar logam tersebut adalah pasangannya, lalu menangkap frekuensi kasih sayang Pak Bambang terhadap hobinya. Angka yang muncul? 98.
Berita itu menyebar secepat kilat: “Kadar Cinta Pak Bambang pada Burungnya Lebih Tinggi Daripada pada Istrinya!”
Keributan pecah di rumah tersebut. Piring terbang dan burung-burung beterbangan.
Kondisi segera berlanjut menjadi kepanikan massal. Para istri di seluruh kota mendadak meniru aksi istri Pak Bambang. Mereka mulai mengetes kadar cinta suami mereka ke benda-benda lain secara paksa. Hasilnya mengerikan. Ribuan pria kedapatan memiliki skor 99 untuk konsol gim, motor tua, hingga jersey bola kesayangan mereka. Valdo-Pania pun berada di ambang perang saudara domestik.
***
Melihat angka perceraian yang melonjak karena hal-hal sepele, pemerintah akhirnya turun tangan. Prof. Oteys Preko de Ville dipanggil ke istana.
“Prof, alatmu membuat negara ini hancur! Rakyatku bertengkar karena angka-angka itu!” seru sang Gubernur.
Prof. Oteys Preko de Ville menghela napas. “Cinta itu kompleks, Pak. Manusia bisa mencintai benda mati lebih tulus karena benda mati tidak pernah menuntut.”
Akhirnya, pemerintah mengeluarkan regulasi ketat:
- Amoris-Meter V2.0: Alat wajib di-upgrade. Sensor hanya boleh aktif untuk sesama manusia (Homo Sapiens).
- Filter Emosi: Alat dilarang menampilkan angka saat salah satu pasangan sedang dalam kondisi lapar, mengantuk, atau PMS, karena hasil dipastikan bias.
- Pajak Cinta: Setiap pengecekan dikenakan biaya, agar orang-orang tidak terlalu sering “menagih” bukti cinta.
Kini, Kota Valdo-Pania kembali tenang, meski sedikit hambar. Para lelaki bernapas lega karena “saingan” mereka, yaitu hobi dan benda kesayangan, sudah dihapus dari sistem. Namun, bagi para wanita, mereka tetap punya insting yang lebih tajam dari alat mana pun: jika suami tiba-tiba terlalu baik, mereka tak butuh Amoris-Meter untuk tahu ada yang tidak beres.
***
Sementara itu,
rumah Pak Bambang mendadak hening dari suara kicauan indah. Burung Murai seharga puluhan juta itu telah dipaksa pindah tangan ke pasar loak, sedangkan sangkar besinya yang bersejarah kini beralih fungsi menjadi tempat jemuran tali kutang milik istri Pak Bambang. Pak Bambang hanya bisa pasrah duduk di teras sambil terus menggandeng tangan istrinya demi mempertahankan angka aman 85, menyadari bahwa kehilangan hobi terbaiknya jauh lebih baik daripada harus menghadapi badai piring terbang untuk kedua kalinya.
***
wedeeewww canggih kak critany
bu bambang kayak nama kasek q 🫣
Selamat menikmati…
Salam untuk Ibu Bambang, Kak Tambun…
✌🐰