Cara Saya Menolak Gila Lewat Sepiring Daging

Saya sempat merenung di akhir tahun 2025 lalu. Di tengah gempuran tren video pendek yang bikin otak kita cuma bertahan fokus hitungan detik, saya malah nekat ikut workshop kepenulisan.

Sebuah keputusan yang kalau dipikir-pikir agak anti-mainstream. Wong dari dulu saya ini cuma hobi membaca, tapi kalau disuruh menulis? Wah, ampun, tidak pandai sama sekali. Paling banter memori menulis saya itu ya cuma coret-coret di buku diary gembok zaman SMP dan SMA dulu. Isinya? Ya tahu sendirilah, cinta monyet dan drama remaja yang kalau dibaca sekarang bikin bulu kuduk merinding saking malunya.

Tapi sekarang beda cerita. Saya ingin belajar merangkai kata agar enak dibaca. Istilah kerennya, saya ingin tulisan saya itu “ada daging yang bisa dikunyah”, tidak sekadar curhatan kosong bin menye-menye semata.

Meskipun, ya begini ya, urusan curhat estetik di media sosial itu sebenarnya juga menyenangkan. Apalagi untuk orang seperti saya yang kalau merasakan emosi (baik itu senang, sedih, sampai dongkol setengah mati) ekspresinya bisa langsung menggebu-gebu.

Nah, lewat menulis inilah saya belajar ngerem. Menulis menjadi cara saya menghargai emosi baik dan buruk. Begitu jemari mulai mengetik atau menggoreskan pena, entah kenapa pikiran yang tadinya ruwet kayak benang kusut mendadak jadi jernih kembali. Kewarasan saya dengan mudah kembali ke jalurnya.

Menulis itu ternyata memaksa otak saya bekerja lebih terstruktur. Daripada emosi meledak-ledak ndak karuan, menulis membantu saya untuk menenangkan diri yang gampang tersulut dalam segala hal ini.

Ternyata, ini bukan cuma perasaan saya lho ya. Untung ada penelitiannya, jadi argumen saya ini bisa sedikit menyaingi tingkat kebenaran mutlak yang dimiliki oleh MC kita yang terhormat, hmmm… hihihi.

Secara ilmiah, manfaat menulis ini sudah banyak diteliti oleh para pakar psikologi. Salah satunya riset legendaris dari American Psychological Association (APA) terkait expressive writing. Penelitian itu menyebutkan bahwa menuliskan pikiran dan perasaan mampu mengurangi stres, menyingkirkan pikiran negatif, dan meningkatkan kapasitas memori kerja otak kita. Istilahnya, menulis itu seperti tombol refresh otomatis buat saringan otak yang sudah penuh dengan remah-remah problematika hidup.

Maka dari itu, di titik ini saya merasa sangat bersyukur. Bersyukur karena Gusti Allah masih memberikan saya ruang, waktu, dan kesehatan untuk mengasah otak melalui tulisan.

Saya ndak muluk-muluk ingin jadi pujangga hebat sekelas Pramoedya Ananta Toer. Bisa menuangkan isi kepala dengan jujur, menjaga kewarasan sendiri, dan menghasilkan tulisan yang bermanfaat buat orang lain, itu saja sudah membuat saya merasa neriman ing pandum (menerima segala pemberian dengan ikhlas).

Lagi pula, hidup yang tenang itu kan relatif. Ada orang yang tenangnya kalau punya tabungan milyaran di bank. Tapi bagi saya, bisa duduk tenang, merangkai kata demi kata sambil ditemani secangkir americano hangat, itu sudah masuk kategori kemewahan hidup yang hakiki, tapi kalau Gusti Allah ngasih satu milyar, saya nerima dengan senang hati, Eh.. hihiihi… Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *