Menu Nomor Dua

Aku berdiri di depan wajan yang berasap,
menatap minyak yang meletup-letup.
“Spesial,” kata lelaki berkaus kutang itu.
Lalu dia melempar dua butir telur,
dan mengikat bungkusnya dengan dua karet gelang.

Aku membawa pulang bungkusan itu,
berharap menemukan arti kata yang agung.
Namun di kunyahan pertama,
rasanya sama saja dengan sisa kemarin.
Hambar, berminyak, dan lekas membuat mual.

Dahulu, seseorang juga membisikkan kata itu ke telingaku.
“Kamu spesial,” katanya, hangat seperti uap nasi.
Aku percaya dan merasa menjadi satu-satunya manusia.
Sampai aku melihat ke luar jendela rumahnya,
ada antrean panjang orang-orang yang juga memesan rasa yang sama.

Kini aku tahu kegunaan kata itu.
Ia bukan tentang sebuah keistimewaan.
Ia hanya mantra usang milik para pedagang,
untuk menghabiskan stok dagangan yang hampir basi,
dan membuat orang-orang kesepian merasa berharga.

Malam berikutnya, aku kembali ke gerobak itu untuk memaki sang penjual.
Namun langkahku terhenti melihat seorang lelaki sedang mengantre.
Ia adalah lelaki yang sama, yang dulu menyebutku spesial.
Ia menerima bungkusan dengan dua karet gelang itu,
lalu berbalik menatapku tanpa rasa bersalah.

Dia berjalan melewatiku begitu saja,
sambil menyerahkan bungkusan itu kepada wanita di sebelahnya,
dan berbisik: “Ini untukmu, Sayang, rasanya sangat spesial.”
Di sanalah aku sadar, hidup ini hanyalah sepiring nasi yang biasa saja.

Komentar

  1. Baskoro Adhyaksa menulis:

    Innallaha ma’ash shabiriin

    1. diyah kuning menulis:

      Alhamdulillah, insyaAllah…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *