
Saya itu pernah dinyinyirin sama si paling serius, “Ngapain sih baca buku fiksi? Ndak ada faedahnya tahu! Baca itu buku nonfiksi biar pintar kayak Albert Einstein!”
Aduh, mohon maaf lahir batin nih ya. Saya ini kalau disuruh baca buku nonfiksi bawaannya langsung mengantuk stadium lanjut. Mungkin memang otak mungil saya yang kapasitasnya cuma sekian kilobita ini, kurang mampu menampung rumus-rumus rumitnya Mbah Einstein. Apaan itu ya rumusnya? Nah kan, baru mau mikir saja saya sudah lupa!
Daripada saya memaksakan diri baca buku teori berat lalu berakhir pingsan di atas meja, saya lebih memilih setia sama hobi saya: membaca fiksi. Walau bagi sebagian orang membaca cerita khayalan itu dianggap buang-buang waktu, saya ndak peduli.
Alhasil, karena penasaran dengan tuduhan “ndak ada faedahnya” itu, saya iseng-iseng mencari tahu di internet. Ternyata, secara ilmiah, membaca fiksi itu manfaatnya ndak main-main lho!
Menurut studi psikologi dari Universitas Toronto, orang yang hobi baca fiksi itu otaknya dilatih untuk lebih fleksibel, kreatif, dan pintar mengambil keputusan saat menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.
Selain itu, ilmuwan di Emory University juga pernah meneliti kalau membaca novel bisa meningkatkan konektivitas otak dan mengasah empati kita. Kita jadi lebih jago merasakan apa yang dirasakan orang lain karena terbiasa masuk ke dalam “sepatu” karakter di cerita (tu kan, pantesan saya ini penyayang banget orangnya, sampai-sampai lihat rendang nganggur, sayang banget kalau ga dimakan).
Malah ada riset yang bilang kalau membaca fiksi selama 6 menit saja sudah ampuh menurunkan stres dan detak jantung setara dengan efek yoga! Nah, kurang berfaedah apa coba? Berarti baca novel itu bagian dari investasi kesehatan mental!
Tapi ya bukan berarti saya anti banget sama nonfiksi. Saya juga baca kok dikit-dikit. Kitab suci Al-Qur’an contohnya (ya itu jelas wajib sih hukumnya untuk dibaca tiap hari). Sama satu lagi, buku mata pelajaran kelas yang saya ampu di sekolah, hehehe. Ya iyalah harus dibaca, namanya juga guru, kalau ndak dibaca bisa berabe!
Intinya begini, setiap orang punya cara sendiri untuk menikmati dunia lewat lembaran kertas. Mau bukunya berwujud novel romantis yang bikin nangis bombay, cerita detektif, sampai buku resep makanan, semuanya sah-sah saja. Saran saya, apapun jenis bacaanmu, jangan pernah berhenti membaca!
Sebab yang berbahaya itu bukan orang yang cuma baca buku fiksi, tapi orang yang ndak pernah baca buku sama sekali tapi hobi berkomentar di media sosial.
Upssiii! 🙊