Lampu Padam Saat Minat Baca Menyala

Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan mendadak riuh saat saya mendampingi study tour anak-anak SD kelas 2. Mata polos mereka berbinar menyusuri rak. Ada yang kegirangan menemukan buku cerita bergambar, ada yang sibuk membolak-balik ensiklopedia, dan sebagian besar mengagumi ruang baca yang sejuk dan nyaman. Di tengah gempuran gawai, anak-anak ini ternyata masih haus akan buku.

Namun, kehangatan itu mendadak bersanding dengan sebuah realitas yang disampaikan seorang teman semalam. Dengan nada penuh harap, dia menceritakan betapa tingginya kerinduan pekerja urban untuk berkunjung ke perpustakaan daerah, yang sayangnya sering kali terbentur oleh keterbatasan waktu operasional.

Saat ini, pada hari Senin sampai Kamis perpustakaan melayani hingga pukul 16.00 WITA, hari Jumat hingga pukul 15.30 WITA, dan hari Sabtu hingga pukul 12.00 siang. Bagi teman saya, dan sebagian besar pekerja atau orang tua yang mengandalkan hari libur, waktu operasional ini menjadi tantangan tersendiri untuk bisa menikmati fasilitas literasi daerah di luar jam sibuk mereka.

Mari kita hitung realitas waktu ini dengan cermat. Anak-anak SD rata-rata pulang sekolah pukul tiga sore, sementara orang tua mereka baru selesai bekerja pukul empat atau lima sore. Saat para orang tua baru bersiap pulang dari kantor, loket pelayanan perpustakaan pun sudah bersiap ditutup.

Akhirnya, anak-anak sering kali hanya bisa mencicipi indahnya perpustakaan saat agenda formal sekolah, sementara ruang membaca bersama keluarga di waktu luang menjadi sulit diwujudkan.

Kondisi ini terasa krusial jika bicara soal aksesibilitas. Harga buku berkualitas saat ini makin tinggi bagi masyarakat kebanyakan. Bagi saya, pengajar dengan pendapatan yang harus dibagi dengan banyak kebutuhan pokok, keberadaan perpustakaan daerah adalah benteng terakhir bagi keadilan literasi.

Di sinilah seluruh lapisan masyarakat memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk membaca buku berkualitas secara gratis. Kehadiran ruang megah ini tentu akan jauh lebih optimal jika pintu layanannya dapat diakses saat warga memiliki waktu luang terbesar mereka.

Jika merujuk pada beberapa kota besar dan negara dengan indeks literasi tinggi, perpustakaan umum justru memperpanjang operasional mereka di malam hari. Mereka memandang perpustakaan sebagai “ruang ketiga”, tempat pelarian produktif sepulang kerja atau sekolah yang aman, nyaman, dan mencerdaskan.

Di tengah semangat Pemkot Balikpapan yang gencar menggaungkan Transformasi Budaya Kerja ASN, tantangan ini sebenarnya adalah peluang emas. Transformasi pelayanan publik yang sejati justru diuji dari kemampuan kita untuk adaptif dan responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat modern.

Apabila kita serius ingin mendongkrak indeks literasi kota, penyesuaian paradigma pelayanan mutlak diperlukan. Penerapan sistem kerja sif (shift) bagi petugas untuk memperpanjang jam buka hingga malam hari atau akhir pekan secara penuh bisa menjadi solusi konkret.

Mari kita buka pintu literasi ini lebih lebar, agar anak-anak bisa kembali datang menggandeng tangan orang tua mereka sepulang kerja, dan memastikan lampu peradaban di Kota Beriman ini terus menyala terang demi masa depan generasi kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *