Ternyata, Aku Boleh Juga di Matamu

“Wah,” gumamku sambil menatap layar ponsel yang menyala di kegelapan kamar. “Kok bisa ya? Kamu suka sama aku?”

Aku mencubit pipi sendiri. Sakit. Berarti ini bukan mimpi. Padahal selama ini aku merasa seperti figuran di film komedi; lebih sering jadi bahan tertawaan daripada pemeran utama romantis. Tapi pesan darimu malam itu benar-benar membuat jantungku mau copot: “Aku mau, pasrah deh, jika harus jadi hak milikmu.”

“Aduh duh duh duh,” aku berguling di kasur, menutupi muka dengan bantal. “Kok ada yang suka sama aku selain ibuku?”

Biasanya cuma Ibu yang bilang aku manis kalau baru mandi. Tapi kamu berbeda. Kamu bilang tawaku menular. Kamu bilang caraku mengikat tali sepatu itu unik. Ternyata, aku tidak seburuk yang kukira. Aku yang biasanya cuma jadi penonton di pinggir lapangan, tiba-tiba ditarik ke tengah panggung untuk jadi pemenang.

Namun, rasa tidak percaya diri tidak bisa hilang dalam semalam. Hari-hari setelah pernyataan cintamu itu, lewat pula dengan penuh tanya di kepalaku, apakah kamu beneran ama aku? apakah aku memang yang kamu sayangi, bukan untuk pengisi waktu luangmu? Ah otakku terlalu berisik untuk cinta indah yang belum pernah ku miliki sebelumnya.

Setiap kali mengetik balasan chat, jariku gemetaran. Aku yang awalnya takut jatuh cinta dan trauma patah hati, perlahan mulai luruh oleh perhatianmu yang konsisten. Tiap ada notifikasi darimu muncul di layar (walau hanya sebatas “like” di status wa aku) senyumku langsung mengembang lebar, mirip kuda yang dikasih wortel segar.

Hingga akhirnya, tibalah hari ini. Hari di mana kita memutuskan untuk bertemu pertama kalinya setelah resmi berstatus ‘pacaran’.

“Ya Allah Gusti,” batinku berkomat-kamit, mencoba menenangkan debaran dada saat kita duduk berdua di kafe sore itu. Aroma kopi dan alunan musik akustik malah membuatku makin salah tingkah.

Aku memandangi penampilanku sendiri, lalu menatapmu. Akhirnya suara berisik itu keluar untuk pertama kalinya. “Beneran, kamu serius nih sama aku?” tanyaku, karena jiwaku yang lunglai ini masih merasa jika semua terlalu mustahil.

Kamu tidak menjawab dengan kata-kata. Kamu justru memajukan tubuh, menggenggam tanganku di atas meja, dan menatap lurus ke mataku dengan binar yang tidak main-main.

“Aku serius. Sangat serius,” ucapmu lembut.

Detik itu juga, duniaku rasanya berputar lebih lambat. Hatiku yang tadinya penuh keraguan langsung runtuh begitu kamu mulai mengobrol jauh, bahkan bercanda tentang bagaimana konsep pernikahan kita nanti. Kok ada ya, orang yang bisa menatap masa depan bersama orang sepertiku? Aku yang hobi pakai kaos oblong bolong dan sering lupa menaruh kunci motor ini?

Sambil merasakan kehangatan jemarimu, aku tersenyum dalam hati. Ternyata, aku bisa menjadi sangat berharga di mata orang yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *