Rumah Kaca

Di bawah langit kamar yang hangat,

saat aku merapat dan mencari lenganmu,

aku hanya ingin menjadi hutan yang rimbun dan liar,

membawa rindu yang acak,

menanyakan cinta yang manja.

Namun di matamu, Kekasih,

itu adalah kesalahan fatal.

Kau bedah pertanyaanku dengan logika yang dingin,

seperti traktor yang meratakan keanekaragaman hayati.

Kau anggap rasa manjaku merendahkan sakralnya perasaanmu.

Betapa lucunya caramu bekerja, Kekasih.

Kau bisa tertawa pada candaan kesepakatan yang kita buat,

tapi mendadak menjadi mandor yang paling serius,

hanya karena aku meminta secuil penegasan rasa.

Kau selalu membangun benteng dari tumpukan argumen.

Merasa paling benar, memenangkan setiap perdebatan.

Kau seperti industri yang rakus di luar sana: membabat habis isi kepalaku yang hijau,

lalu menanaminya dengan barisan aturanmu yang seragam.

Aku dituduh bersalah, hanya karena menolak jadi kaku.

Kau takut pada pertanyaan yang sederhana, Kekasih.

Kau memuja kebenaran dalam isi kepalamu yang mekanis,

tapi buta pada detak dada yang butuh ditenangkan.

Kau telah mengubah cinta kita yang subur,

menjadi hamparan kebun sawit yang gersang dan haus air.

Ingatlah, kekasih,

di antara ego dan ruang dewasamu yang kaku: cinta tidak bisa dipanen dengan paksa lewat argumen,

ia hanya butuh dijawab dengan pelukan,

bukan dengan rentetan pembelaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *