Tidak Apa-apa Gendut, yang Penting Sehat?!

Saya itu paling gemas kalau dengar kalimat pamungkas ini: “Ah, enggak apa-apa gendut, yang penting sehat!”

Mohon maaf lahir batin nih ya, disclaimer dulu. Ini khusus buat kita-kita yang gendutnya jalur sukarela alias hasil “request sesuai pesanan” mulut sendiri, bukan karena bawaan medis lho ya. Tolong dicatat, biar ndak ada baku hantam di kolom komentar.

Sebab begini, saya ini alumni. Saya pernah ada di fase itu. Waktu itu berat badan saya melonjak karena efek terapi hormon. Ditambah lagi khilaf, pas hormon lagi bergejolak, saya malah mager alias malas gerak. Bayangkan saja, tinggi badan saya cuma 162 cm, tapi timbangan sukses menyentuh angka 85 kilo! Kebayang ndak bunder-nya kayak apa?

Apakah waktu itu saya pakai kalimat jimat “sing penting sehat” itu? Oh, jelas iya! Saya sempat tersesat dalam keyakinan semu itu. Sampai akhirnya, realitas menampar saya pelan-pelan.

Mula-mula badan rasanya gampang capek. Jalan dikit, ngos-ngosan. Naik tangga ke lantai dua saja napas sudah kayak mau habis. Padahal rumah saya itu lantai satu. Tunggu, lalu tangga rumah siapa yang kemarin saya naiki? Ah, embuh lah!

Parahnya lagi, setiap dipakai jalan atau kerja, lutut saya bunyinya kluk… kluk… mirip sendi robot kekurangan oli. Padahal umur saya waktu itu masih ranum-ranumnya, baru 27 tahunan!

Apakah saya langsung insaf dan tobat? Tentu saja tidak. Manusia kan tempatnya bebal ya.

Saya baru benar-benar divonis “insaf” setelah dapat surat cinta dari dokter. Saya dinyatakan mengidap resistensi insulin. Bahasa bayi yang dijelaskan dokter ke saya begini: gula di darah saya itu sudah kebanyakan, nah biar ndak bablas jadi penyakit gula (diabetes), sel-sel tubuh yang lain terpaksa kerja bakti setengah mati buat bantuin. Efek sampingnya? Sel telur yang saya butuhkan malah susah berkembang.

Begitu disuruh diet ketat dan wajib olahraga, detak jantung saya langsung bergetar. Saya insaf instan!

Alhamdulillah, di umur yang sudah kepala tiga pertengahan ini (tepatnya 36 tahun) berat badan saya sudah susut sekitar 15 kiloan. Walaupun belum se-seksi Jennifer Lopez kalau lagi konser sih, tapi minimal badan saya sekarang jauh lebih fit dan bugar. Bahkan kalau mau, saya sudah bisa salto-salto di depan rumah sambil mengibarkan sarung di tengah hujan saking ringannya ini badan.

Saking semangatnya, sekarang saya sampai rajin tenis 5 kali seminggu, plus gym 3 kali seminggu. Ya… walau dompet saya akhirnya juga ikutan langsing sih. Tapi ya sudah, ndak apa-apa deh, duit kan bisa diminta ke donatur, ya kan?

Hikmah dari “jeweran” sayang dari Tuhan itu membuat saya sadar. Mulai sekarang, saya bertekad mengurangi yang manis-manis, kecuali kamu. Eh! 🙊

Intinya sekarang, yang paling penting, saya ndak bakal percaya lagi sama kalimat sesat menjebak itu. Gendut yang diobrolkan tadi itu sama sekali tidak sehat. Tidaaaak, jangan mau tertipu halusinasi!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *