
Masih saja ada yang bertanya ke saya, βNgapain sih kamu nulis? Ribet banget, semua-mua dikomentari. Lagian, emang ada yang mau baca? Emang kalau kamu nulis, harga beras langsung turun?β
Begini, wahai Kisanak yang budiman. Kalau pikiran Anda cuma soal untung-rugi instan, saran saya cuma satu: mending jualan gorengan. Begitu bakwan matang, ada pembeli, ludes, uang di tangan. Jelas, konkret, tidak pakai mikir filosofis.
Tapi menulis itu beda muaranya. Ini bukan soal dagangan yang harus habis hari itu juga. Menulis adalah cara paling tangguh untuk membuktikan kalau kita punya otak mungil yang masih jalan, dan hati yang tidak karatan oleh rasa cuek.
Menulis itu bukan sekadar merangkai kata, melainkan sebuah tanggung jawab moral yang melatih kita untuk tidak jadi manusia “sumbu pendek”. Lewat tulisan, kita dipaksa mengolah emosi yang meledak-ledak menjadi kalimat yang adem dan enak dibaca. Dari sana, kita belajar jadi lebih bijak, bukan malah dikit-dikit ngamuk di media sosial.
Soal siapa yang mau baca, ya serahkan saja pada takdir. Menulis itu sama seperti petani yang menebar benih; tugas kita cuma menanam, bukan memikirkan siapa yang bakal kenyang. Bisa jadi tulisan kita hari ini cuma dibaca oleh satu orang saja. Tapi bagaimana kalau satu orang itu kebetulan lagi putus asa, dan tulisan kita justru jadi penyelamat yang bikin dia batal menyerah pada hidup? Efek magis seperti itu jelas jauh lebih berharga ketimbang dapat ribuan likes kosong yang isinya cuma pamer ego.
Makanya, jangan naif juga berpikir kalau satu status Facebook kita harus bisa langsung bikin presiden ganti kebijakan atau memicu revolusi besar. Perubahan di dunia ini dicicil, Bung! Kalau tulisan sederhana kita bisa membuat satu orang saja terbuka wawasannya hari ini, itu sudah menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa kok.
Kekuatan magis dari sebuah coretan ini bukan isapan jempol belaka. Sejarah telah membuktikannya lewat kisah nyata Pramoedya Ananta Toer. Ketika beliau ditahan di Pulau Buru tanpa mesin tik, hak-haknya dirampas, dan tubuhnya dipenjara, semangatnya tidak pernah padam. Beliau tetap “menulis” dengan cara mendongengkan kisah Bumi Manusia kepada sesama tahanan politik agar mereka tetap punya harapan untuk hidup. Ketika beliau akhirnya mendapatkan mesin tik, lahirlah karya-karya legendaris yang kini mendunia dan mengubah cara pandang generasi bangsa tentang kemanusiaan serta kolonialisme. Tubuhnya boleh dikurung, tetapi pikirannya merdeka dan abadi lewat tulisan. π
Lagipula, menulis sebenarnya bukan soal gaya-gayaan. Ini tentang bagaimana cara kita memperpanjang usia kebaikan di atas bumi. Tubuh kita suatu saat pasti akan terkubur, tetapi pemikiran dan pesan bijak yang kita tuangkan akan abadi menjadi kompas bagi orang lain. Jika membuat satu paragraf baik saja kita masih cari-cari alasan, jangan heran kalau keberadaan kita menguap begitu saja. Sungguh sayang jika umur yang singkat ini mengalir tanpa jejak, berlalu tanpa pernah memberi arti bagi dunia di sekitar kita.
Sudahlah, tulisan ini tidak usah dibuat terlalu serius sampai berujung khotbah. Saya juga tidak mau tiba-tiba merebut lahan pekerjaan para motivator atau berlagak “si paling nulis” sedunia. Pokoknya, ndang nulis! Mau nulis tips masak mie instan biar tidak lembek, atau tutorial memarkir motor yang benar, silakan. Apa saja, yang penting ada manfaatnya dan tidak cuma menuangkan isi kepala yang ruwet. Daripada jempol Anda cuma dipakai untuk berburu gosip artis atau adu argumen di grup WhatsApp RT, mending dipakai mengetik sekarang. Ditunggu karyanya!
Wwah nak diyah skr jadi penulis ,budhe bangga
Alhamdulillah, terima kasih, Bude…
Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca, serta bersedia menghiasi kolom komentar saya π